Perubahan Iklim Pangkas Besar-besaran Produksi Kurma di Jalur Gaza

Seorang pria Palestina memanen kurma dari pohon palem di tengah pembatasan penyakit coronavirus (COVID-19), di Deir al-Balah di Jalur Gaza tengah 5 Oktober 2020. REUTERS/Mohammed Salem
Seorang pria Palestina memanen kurma dari pohon palem, di Deir al-Balah di Jalur Gaza tengah 5 Oktober 2020. REUTERS/Mohammed Salem

Gaza, helloborneo.com – Perubahan iklim memangkas produksi kurma di Jalur Gaza hingga hampir setengahnya tahun ini. Para pakar mengatakan, hujan tak terduga di luar musim dan cuaca yang panas telah merusak proses penyerbukan selama musim semi lalu.

Adham al-Basyouni, seorang pejabat dari Kementerian Pertanian di Gaza mengatakan produksi kurma tahun ini diperkirakan turun menjadi 10.000 ton dari 16.000 ton per tahun dalam dua tahun terakhir setelah musim semi yang sangat dingin dan basah.

Ia mengatakan pihak berwenang sedang mengembangkan sistem pertanian baru yang canggih untuk membantu petani mengatasi dampak perubahan iklim sehingga bisa mempertahankan produksi kurma untuk memenuhi kebutuhan populasi Gaza yang berkembang pesat.

“Kita harus mengubah pola pikir kita untuk menghadapi perubahan iklim ini, agar roda produksi tetap bergulr. Kami sedang mengembangkan metode pertanian untuk melawan perubahan iklim ini,” jelasnya.

Karena blokade dari Israel dan Mesir, daerah kantong itu hanya memiliki akses terbatas ke pasar luar untuk produk pertaniannya dan cuaca musim panas yang luar biasa panas, menyusul musim semi yang basah, menambah kesengsaraan lebih lanjut bagi para petani.

Uday Manna adalah seorang petani di Deir El-Balah, sebuah kota di Jalur Gaza Tengah, yang artinya “Biara Kurma”. Ia mengeluhkan akibat perubahan iklim terhadap lahan pertaniannya.

“Seluruh musim kurma rusak. Ini adalah tahun pertama kami mendapatkan panas seperti ini, kami sebelumnya tidak pernah mengalaminya. Setiap tahun kami biasanya mengirim kurma ke Tepi Barat, tahun ini Deir El-Balah tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri,” komentarnya.

Cuaca buruk juga memengaruhi kualitas kurma, yang merupakan bahan dasar dari berbagai manisan dan kue-kue lokal tradisional.

Zahwa Abu Qassem, yang telah puluhan tahun membuat pasta kurma untuk digunakan dalam berbagai penganan dan pancake, sangat terpukul.

“Udaranya benar-benar panas. Cuaca ini membuat penyerbukan pohon-pohon kurma tidak berlangsung sebagaimana semestinya. Saya menunggu musim panen kali ini untuk mencari nafkah. Sayangnya, kurma tahun ini berukuran kecil dan tidak berdaging,” sebutnya.

Tanaman kurma banyak ditemukan di daerah padang pasir, khususnya di negara-negara Timur Tengah. Selain mengonsumsi buahnya, masyarakat negara-negara di kawasan itu juga kerap memanfaatkan batang dan pelepah pohonnya untuk diolah menjadi tikar dan atap rumah. (voa/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.