Bank Sampah Program Kurangi Timbunan Sampah di TPA Penajam

Bagus Purwa

Kepala Dinas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Penajam Paser Utara, Tita Deritayati. (ES Yulianto)
Kepala Dinas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Penajam Paser Utara, Tita Deritayati. (ESY)

Penajam, helloborneo.com – Bank sampah merupakan program untuk mengurangi timbulan (berat/volume) sampah di TPA (tempat pembuangan akhir) Buluminung, Kabupaten Penajam Paser Utara.

“Kami terus berupaya tekan volume sampah yang dibuang ke TPA Buluminung melalui program bank sampah,” jelas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Penajam Paser Utara, Tita Deritayati di Penajam.

Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Penajam Paser Utara,, terus mendorong masyarakat untuk mengelola bank sampah di wilayah masing-masing, karena dapat menjaga kebersihan dan bisa menambah penghasilan warga.

Dinas Lingkungan Hidup menyediakan buku tabungan khusus bagi masyarakat yang menjual sampah melalui bank sampah.

Sampah yang memiliki nilai ekonomis seperti kardus, besi, plastik dan lainnya, menurut dia, bisa dibawa ke bank sampah untuk ditukarkan dengan uang.

Melalui bank sampah yang dikelola masyarakat sendiri, secara otomatis dapat memberi penghasilan sampingan melalui sampah sekaligus kebersihan lingkungan tetap terjaga.

Dinas Lingkungan Hidup juga memberikan pelatihan pembuatan pupuk kompos atau organik dari bahan baku sampah.

Program bank sampah dan pembuatan pupuk organik dengan bahan baku sampah tersebut, kata dia, diharapkan berat sampah dari TPS (tempat pembuangan sementara) yang diangkut ke TPA dapat berkurang.

Sampah rumah tangga yang diangkut ke TPA Buluminung di Kelurahan Buluminung, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, dari setiap TPS yang ada di wilayah daerah itu cenderung mengalami peningkatan setiap tahun.

“Saat ini rata-rata sampah rumah tangga yang masuk ke TPA Buluminung mencapai 50 ton per hari,” ujar Tita Deritayati.

Komposisi sampah rumah tangga yang dihasilkan masyarakat di daerah berjuluk Benuo Taka itu didominasi sampah organik, kemudian sampah plastik. (adv/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses