Menkes Apresiasi APINDO Turunkan Stunting di Tiga Wilayah Percontohan

Jakarta, helloborneo.com – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengapresiasi Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) yang berhasil menurunkan angka stunting di Kabupaten Bogor, Kota Serang, dan Kabupaten Purbalingga.

Tiga wilayah tersebut merupakan proyek percontohan atau pilot project APINDO ikut andil dalam penurunan stunting di Indonesia. Hal tersebut disampaikannya pada Diskusi Program “Gerakan Anak Sehat Kolaborasi Inklusif Pengusaha Indonesia Atasi Stunting (GAS-KIPAS STUNTING).

“Partisipasi dari dunia usaha sudah berhasil menurunkan angka stunting di tiga daerah. Sekarang tinggal diperluas saja sasaran daerahnya,” kata Menkes Budi melalui keterangan resminya.

APINDO melalui program GAS-KIPAS STUNTING berkontribusi dalam pencegahan stunting yang memiliki korelasi dengan pertumbuhan ekonomi. Program GAS-KIPAS STUNTING menggunakan tiga pendekatan.

Pertama, peningkatan akses pangan, dilakukan dengan mendukung program pangan yang terjangkau dan berkualitas bagi masyarakat, terutama keluarga dengan anak-anak, untuk mencegah kondisi gizi buruk dan stunting.

Kedua, investasi dalam pendidikan dan kesehatan, dilakukan dengan berpartisipasi dalam program-program pendidikan dan kesehatan yang bertujuan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang nutrisi, kesehatan ibu hamil, serta perawatan anak-anak.

Ketiga, penyuluhan dan kampanye, dilakukan mendukung upaya kampanye publik untuk meningkatkan kesadaran tentang stunting dan pentingnya pencegahan sejak dini.

Program GAS-KIPAS STUNTING APINDO akan terus dikembangkan hingga 2024 untuk menjangkau lebih dari 150.000 penerima manfaat yang tersebar di lebih dari 1.000 Posyandu di seluruh Indonesia.

Untuk tahap awal, pilot project GAS-KIPAS STUNTING APINDO dilaksanakan atas kerja sama dengan lebih dari 300 pejuang stunting, terdiri atas pakar gizi, kader, koordinator lapangan, mahasiswa pendamping lapangan.

Pilot project ini menyasar tiga kota/kabupaten, yakni Kabupaten Bogor, Kota Serang, dan Kabupaten Purbalingga, dengan total 2.300 penerima manfaat.

Ketua Umum Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Gizi Indonesia (AIPGI) Prof. Dr. Hardinsyah, MS menjelaskan program GAS-KIPAS STUNTING dirancang di Kabupaten Bogor, Kota Serang, dan Kabupaten Purbalingga.

Ada 2.300 penerimaan manfaat selama 4 bulan yang dimulai pada Agustus 2023 setelah diluncurkan. Pada Januari 2024, telah keluar hasil program GAS-KIPAS STUNTING yang menunjukkan penurunan kasus stunting di tiga wilayah tersebut.

“Strategi dilakukan dengan memberikan kudapan selama 5 hari, Senin sampai Jumat, dan hari Sabtu diberikan makan makanan bersama sekaligus melakukan edukasi bagaimana makanan yang baik, cara makan kepada anaknya,” katanya.

Hasil status gizi pada ibu hamil, kondisi pada Agustus akhir sampai awal September 2023 dilakukan pendataan baseline sebesar 19,6 persen mengalami kekurangan energi kronik (KEK). Kemudian empat bulan setelahnya atau awal Januari 2024, dilakukan pendataan dan ibu hamil yang mengalami KEK turun menjadi sembilan persen.

Selanjutnya, KEK pada ibu dengan anak bawah dua tahun (baduta) yang kondisi awalnya 33,4 persen menjadi 13,49 persen setelah empat bulan.

Ketua Umum APINDO Shinta W. Kamdani mengatakan hal yang paling penting buat APINDO adalah stunting dan mesti ditangani sendiri. Prinsipnya, APINDO tidak dapat memberikan anggaran kepada pihak lain untuk mengatasi stunting, tetapi tidak ada hasil.

“Kami sekarang berani untuk bisa scale up target penurunan stunting, bisa dibantu pemerintah. Ini akan lebih cepat. Jadi, kita ini sama-sama bisa lebih cepat dalam upaya menurunkan stunting di Indonesia,” kata Shinta. (ip/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.