
Jakarta, helloborneo.com – Direktur Pemanfataan Riset dan Inovasi pada Industri Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mulyadi Sinung Harjono mengatakan perkembangan penelitian industri bioteknologi tidak lagi didominasi oleh penelitian pemerintah. Akan tetapi telah bergeser dengan meningkatnya jumlah pemain swasta dan industri di tingkat global.
“Ini sejalan dengan transformasi kelembagaan riset di BRIN yang mendorong implementasi kebijakan penelitian industri dari pemimpin ekosistem industri tradisional oleh pemerintah pada zamannya, yaitu semakin banyaknya partisipasi industri dalam kegiatan penelitian,” kata Mulyadi dalam keterangannya dikutip dari laman BRIN, Jakarta.
Saat Focus Group Discussion (FGD) dengan topik “Research and Commercialization of Biology Product using mRNA Platform” di ajang Indonesia Research and Innovation (InaRI) Expo 2023, Sabtu (23/9) lalu di Gedung Innovation Convention Center (ICC), Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong, Jawa Barat, Mulyadi mengatakan, istilah penelitian menunjukkan kepada kita pentingnya peneliti.
“Di sini kita memiliki peneliti dari industri (dipimpin oleh PT Etana R & D), ada pula peneliti dari kampus (dipimpin oleh Universitas New South Wales), dan peneliti dari pusat penelitian (dipimpin oleh Peneliti Pusat Riset di BRIN). Kami berharap, keluaran penelitian dapat disampaikan dalam bentuk pertukaran orang ke orang antar negara, makalah jurnal, kekayaan intelektual dan kolaborasi dengan industri setelahnya,” tuturnya.
Dirinya menyebutkan syarat komersialisasi lebih menunjukkan kewajiban industri. “Kami mengetahui dalam hal ini PT Etana Biotechnologi Indonesia akan menjadi salah satu industri yang dapat memimpin kita untuk komersialisasi produk para peneliti. Selanjutnya untuk produk, bisa jadi dan akan didistribusikan ke pasar,” tambah Mulyadi.
Lebih jauh Mulyadi mendeskripsikan beberapa kegiatan dan strategi skema utama, yakni: Pertama, Kolaborasi Industri. Indonesia mendorong kolaborasi antar instansi pemerintah, swasta perusahaan, dan mitra internasional untuk mempromosikan inovasi dan teknologi transfer di sektor bioteknologi.
Kedua, Program Inkubasi dan Akselerasi. Pemerintah Indonesia dan sektor swasta mendukung inkubasi dan program akselerasi yang menyediakan dana, bimbingan, dan sumber daya untuk startup dan pengusaha di sektor bioteknologi. Program-program ini mendorong inovasi dan kewirausahaan di bidang yang berhubungan dengan bioteknologi.
Ketiga, Pengembangan Sumber Daya Manusia. Indonesia menyadari pentingnya mengembangkan tenaga kerja terampil bagi masyarakat sektor bioteknologi. Negara ini berinvestasi dalam program pendidikan dan kolaborasi dengan universitas dan lembaga penelitian untuk melatih ilmuwan, insinyur, dan teknisi yang berspesialisasi dalam disiplin ilmu yang berhubungan dengan bioteknologi.
Di sisi lain, Mulyadi menjelaskan pentingnya mendorong investasi swasta dan menjamin vitalitas sektor swasta dalam pengembangan kegiatan bioteknologi, dan bagaimana menerapkan hasil pengembangan teknologi inovatif oleh pusat penelitian dan inovasi nasional ke sektor lain dan mendorong penggunaan bioteknologi oleh sektor industri.
“Kami berharap, FGD dapat membangun momentum untuk berkontribusi terhadap hal tersebuat promosi industri bioteknologi antara Indonesia dan Australia melalui pertukaran informasi dan pertukaran pendapat. Saya percaya bahwa hasil dari forum ini akan membawa manfaat tidak hanya bagi wilayah kami tetapi juga bagi penelitian secara keseluruhan,” harap Mulyadi.
FGD ini merupakan tindaklanjut menyusul Nota Kesepahaman yang sudah ditandatangani tripartit sebelumnya antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas New South Wales dan PT Etana Biotechnologies Indonesia. FGD berlangsung menarik dan interaktif. Satu per satu dari tujuh pembicara FGD memaparkan bahan presentasi yang memantik diskusi lebih lanjut untuk peserta FGD. Kesempatan pertama presentasi dipaparkan Doni, perwakilan PT Etana Biotechnologies Indonesia yang menerangkan Fasilitas untuk Vaksin mRNA. Giliran kedua, Dr. Andre Serobian selaku Chief Innovation and Commercialisation Officer perwakilan dari UNSW RNA Institute.
Selanjutnya perwakilan dari Indonesia, bergantian berbicara di depan forum, yakni Doddy I.S. Utomo dari Pusat Riset Vaksin dan Obat (PRVO) BRIN yang menjelaskan tentang Perkembangan Riset Terkait Komersialisasi Produk Biologi. Sementara dari Pusat Riset Rekayasa Genetika (PRRG) BRIN, Kepala Pusat Risetnya, Ratih Asmana Ningrum menerangkan langsung Peran Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN dalam perkembangan riset mRNA.
Kemudian dari UNSW Sydney, Prof. Vinayak Dixit sebagai Director Transnational Venture, membawakan judul Excellence for Impact: For Deeper Partnership with Indonesia. Sementara dari BPOM RI, Diah Puspitasari, S.Farm. Apt., M. Biomed, sebagai Team Head of Biological Product Registration menjelaskan tentang Persyaratan Pendaftaran Produk Hayati yang Mengandung mRNA di Indonesia. Terakhir, Kementerian Kesehatan RI yang diwakili Martin selaku Direktur Produksi dan Distribusi Farmasi mengungkap Peran Kementerian Kesehatan dalam Mendukung Penelitian dan Pengembangan Vaksin.
Menurut Mulyadi, aspek terpenting sebenarnya adalah dari Kementerian Kesehatan dan BPOM yang terbuka untuk diskusi lebih lanjut case by case untuk setiap item riset yang diajukan. “Setiap riset akan di-review, yang sudah dilakukan apa dan akan dilakukan apa. Dari Kementerian Kesehatan dan BPOM akan cek ricek yang kurang dimana dan mereka akan request yang kurang akan ditambahkan,” katanya.
“Yang disampaikan pak Doni dari Etana akan jadi legacy, dan dari kami BRIN akan mereview langsung seperti apa nanti ke depannya. Secara teknis, terkait topik dan roadmap dari pihak BRIN sudah ada di pihak PRRG dan PRVO BRIN akan jadi pegangan utama,” ungkap Mulyadi. (ip/log)
















