Persediaan Hewan Ternak Penajam 91.640 Ekor

Bagus Purwa

 

Penjual Daging di Pasar Baru Penajam Kelurahan Nenang Kecamatan Penajam (Suherman - Hello Borneo)

Penjual Daging di Pasar Baru Penajam Kelurahan Nenang Kecamatan Penajam (Suherman – Hello Borneo)

Penajam, helloborneo.com – Persediaan hewan ternak sapi, kambing serta ayam buras dan ayam boiler di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, mencapai 91.640 ekor, sehingga diyakini mampu mencukupi kebutuhan daging masyarakat setempat selama Ramadan hingga setelah Hari Raya Idul Fitri.

“Rincian persediaan ternak sebanyak itu tersedia di peternak dan di tingkat pedagang yang mendatangkan dari luar daerah. seperti sapi sebanyak 1.298 ekor, kambing 1.579 ekor, serta 88.763 ekor ayam buras dan ayam boiler,” kata Kabid Peternakan, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Penajam Paser Utara, Arief Murdianto, Senin.

“Selama bulan puasa, kebutuhan konsumsi daging dapat meningkat tiga kali lipat dibanding hari biasa,” ungkapnya.

Sepanjang Ramadan sampai Hari Raya Idul Fitri, kata Arief Murdianto, kebutuhan komoditas sapi sekitar 109 ekor serta 95 ekor kambing, dan kebutuhan ayam buras serta ayam boiler mencapai 67.735 ekor. Dengan perhitungan kebutuhan tersebut, persediaan hewan ternak akan mencukupi hingga setelah Hari Raya Idul Fitri.

“Kami tetap memantau persediaan hewan ternak dari petani. Mempertahankan populasi agar tidak ada pengurasan secara habis-habisan. Kami juga berharap kepada peternak agar tetap mempertahankan sebagian ternaknya,” jelasnya.

Selain memantau persediaan hewan ternak, lanjut Arief Murdianto, Dinas Pertanian dan Peternakan melalui tim pengawas Kesehatan Masyarakat Feteriner (Kesmafet) juga melakukan pengawasan terhadap peredaran ternak maupun komoditas produk asal hewan.

Menurutnya, pengawasan juga dilakukan di rumah potong (RPH) sapi di Girimukti dan RPH ayam di Petung, serta tempat pemotongan hewan (TPH) milik masyarakat. Pemeriksaan dilakukan sebelum dan sesudah pemotongan untuk menjamin kesehatan hewan ternak yang dipotomg tersebut.

“Pengawasan dilakukan kesehatan ternak maupun komoditas produk asal hewan dilakukan di RPH milik pemerintah dan TPH masyarakat, serta langsung turun ke pasar tradisional khusus mengawasi kesehatan daging dan telur,” kata Arief Murdianto.

“Kesmafet juga memantau TPH milik masyarakat, serta meminta untuk melaporkan ke Dinas Pertenian dan Peternakan terkait berapa kali pemotongan dilakukan, asal hewan ternak dan tempat daging itu dipasarkan,” jelasnya. (bp/*esa)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.