Warga Penajam Sulap Buah “Mangrove” Jadi Makanan

AH Ari B

 

Warga Kelurahan Kampung Baru,Kecamatan Penajam berhasil menyulap buah “mangrove” atau bakau menjadi produk makanan. (AH Ari B - Hello Borneo)

Warga Kelurahan Kampung Baru,Kecamatan Penajam berhasil menyulap buah “mangrove” atau bakau menjadi produk makanan. (AH Ari B – Hello Borneo)

Penajam, helloborneo.com – Warga Kelurahan Kampung Baru, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, berhasil menyulap buah “mangrove” atau bakau menjadi produk makanan.

“Di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Penajam, banyak tanaman bakau dan buahnya bisa olah menjadi produk makanan yang memiliki nilai jual,” kata Lurah Kampung Baru, Mujono saat ditemui helloborneo.com di Penajam, Rabu.

Tanaman “mangrove” memiliki banyak manfaat bagi masyarakat, tidak hanya sebagai tanaman pencegah terjadinya erosi dan abrasi pesisir pantai, namun lanjut dia, buah dari tanaman bakau itu juga bisa diolah menjadi produk makanan.

“Buah bakau itu bisa dijadikan sebagai bahan baku makanan khas daerah setempat, seperti kue cimi-cimi, bolu dan akar rotan,” jelas Mujono.

Kelompok pembudidayaan tanaman bakau yang tergabung dalam Kelompok Usaha Wanita Bina Usaha Kelurahan Kampung Baru, menurutnya, membuat produk makanan yang berbahan baku dari buah “mangrove” tersebut.

Namun untuk melakukan pengembangan pengolahan buah “mangrove” menjadi produk makanan tersebut, masih terkendala pendanaan dan memperluas pangsa pasar produk makanan tersebut.

Pemasaran makanan dari buah bakau tersebut menurut Mujono, masih terbatas di tingkat rumah tangga, karena untuk mempromosikan produk makanan lokal khas Kelurahan Kampung Baru itu terkendala anggaran yang terbatas.

Ia berharap, pemerintah daerah memperhatikan kepada kaum ibu dan perempuan yang tergabung dalam PKK (pembinaan kesejahteraan keluarga) Kelurahan Kampung Baru, dengan memberikan pelatihan terkait pemanfaatan buah “mangrove”.

“Pelatihan itu untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas pemanfaatan buah bakau diolah menjadi produk makanan,” ujar Mujono.
“Kami berharap pemerintah daerah memberikan perhatian dan menjadikan produk itu menjadi unggulan dan ikon daerah,” tambahnya. (adv/bp/*rol)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.