Populasi Pesut Mahakam di Teluk Balikpapan Terancam

Bagus Purwa

 

Balikpapan, helloborneo.com – Populasi Lumba-lumba air tawar atau yang lebih dikenal sebagai Pesut (Orcaella Brevirostris) di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, kian terancam karena kerusakan dan pencemaran yang terjadi di daerah itu.

Koordinator Forum Peduli Teluk Balikpapan, Husein Suwarno, saat dihubungi helloborneo.com di Balikpapan, Jumat, mengatakan, dalam sebulan terakhir Forum Peduli Teluk Balikpapan mencatat tiga Pesut mati di perairan Teluk Balikpapan.

Selain itu, hasil penelitian yang dilakukan Lotta, peneliti asal Cheko, pada 2012 jumlah Pesut di sekitar perairan Teluk Balikpapan mencapai 70 ekor, namun pada 2015 tersisa sekitar 50 ekor.

“Kami merasa prihatin dengan ditemukannya satwa langka dan dilindungi itu mati di sejumlah titik perairan Teluk Balikpapan,” kata Husein Suwarno.

Aktivis lingkungan Forum Peduli Teluk Balikpapan, menduga kematian Pesut tersebut karena pengaruh aktivitas reklamasi, kerusakan dan pencemaran yang terjadi di kawasan Teluk Balikpapan.

“Kematian Pesut itu tidak terlepas dari semua yang terjadi di Teluk Balikpapan, baik industri maupun lalu lintas di perairan itu,” ujar Husein Suwarno.

Lalu lintas di perairan Teluk Balikpapan, menurutnya, sudah sangat padat, sehingga mengganggu ekosistem perairan di Teluk Otu, khususnya mamalia laut.

Hutan “mangrove” atau bakau yang menjadi habitat satwa langka yang terdapat di Teluk Balikpapan, lanjut Husein Suwarno, juga terus tergerus akibat aktivitas industri, khususnya di Kawasan Industri Kariangau (KIK), Kota Balikpapan dan KIB atau Kawasan Industri Buluminung, Kabupaten Penajam Paser Utara.

“Sedimentasi di Teluk Balikpapan, juga kian memprihatinkan karena sedimentasi setinggi satu hingga dua meter, belum lagi reklamasi yang dilakukan perusahaan sekitar perairan Teluk Balikpapan,” ucapnya.

Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi menyatakan, pemerintah kota tengah meneliti lebih jauh penyebab kematian Pesut yang terdapat di perairan Teluk Balikpapan tersebut.

“Kami juga prihatin, permasalahan lingkungan komitmen pemerintah kota. Kami coba teliti dulu penyebab kematian Pesut itu, apakah karena dampak lingkungan atau kematian alami,” jelasnya.

Pemerintah Kota Balikpapan, selalu berupaya meminimalisasi dampak negatif dari aktivitas pembangunan di daerah itu terhadap kerusakan lingkungan sekitar, termasuk terhadap populasi Pesut.

“Memang tidak mudah menyelaraskan antara kepentingan pembangunan dengan lingkungan, yang pasti kami selalu berusaha menekan dampak negatif dari pembangunan terhadap lingkungan,” kata Rizal Effendi. (bp/*esa)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.