Dinkes Penajam Tempatkan Bidan di Setiap Desa/Kelurahan

Bagus Purwa

 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten penajam Paser utara, Arnold Wayong (Suherman - Hello Borneo)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten penajam Paser utara, Arnold Wayong (Dok – Hello Borneo)

Penajam, helloborneo.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, menempatkan minimal satu bidan di setiap desa dan kelurahan sebagai ujung tombak pelayanan bagi ibu dan anak.

Kepala Dinkes Kabupaten Penajam Paser Utara Arnold Wayong, saat ditemui helloborneo.com di Penajam, Kamis mengatakan, penempatan bidan di setiap desa dan kelurahan untuk mendekatkan pelayanan, terutama untuk daerah yang letaknya jauh dari pusat layanan kesehatan.

Di Kabupaten Penajam Paser Utara saat ini terdapat 54 desa dan kelurahan, Dinkes setempat juga menempatkan bidan PTT (pegawai tidak tetap) selain bidan yang berstatus pegawai negeri sipil atau PNS.

“Para bidan itu ditempatkan di desa dan kelurahan sebagai salah satu upaya mengotimalkan pelayanan kesehatan, khususnya mengenai penanganan ibu hamil dan ibu melahirkan,” kata Arnold Wayong.

Kebijakan penempatan satu bidan satu desa dan kelurahan tersebut lanjut dia, sebagai langkah pembenahan tata kelola pelayanan kesehatan, serta sebagai bentuk perhatian meningkatkan derajat kesehatan terutama bagi para ibu dan anak.

Menurut Arnold Wayong, dengan adanya bidan di setiap desa dan kelurahan, maka penanganan ibu hamil sampai melahirkan akan lebih optimal. Kesehatan ibu dan anak menjadi fokus untuk program kesehatan.

Ia menjelaskan, untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan anak, di antaranya melalui penempatan bidan desa dan kelurahan, serta peningkatan penyuluhan kepada ibi hamil dengan melibatkan berbagai instansi terkait.

Upaya lain untuk mengurangi angka kematian ibu melahirkan dan anak, Dinkes Kabupaten Penajam Paser Utara memberikan pelatihan kepada para dukun beranak untuk membantu bidan desa dan kelurahan.

“Pelatihan diberikan agar dukun beranak bisa melakukan pertolongan ibu melahirkan sesuai dengan standar kesehatan,” kata Arnold Wayong tanpa menyebutkan angka kasus kematian ibu dan anak di daerah setempat. (bp/*rol)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.