Menengok Pembangunan “Water Front City” Kabupaten Siak (Bagian 1)

Catatan Subur Priono  – Humas Setkab Penajam Paser Utara

 

Salah satu Kawaan pemukiman padat penduduk bantaran Sungai Siak sebelum direlokasi menjadi kawasan Water Front City yang megah oleh pemerintah Kabupaten Siak (Ist)

Salah satu Kawaan pemukiman padat penduduk bantaran Sungai Siak sebelum direlokasi menjadi kawasan Water Front City yang megah oleh pemerintah Kabupaten Siak (Ist)

Penajam, helloborneo.com – Bupati Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Yusran Aspar terus mendorong proyek pembangunan “Water Front City” sebagai pengembangan kawasan pesisir, dan optimistis akan terealisasi sebagai ikon daerah setempat.

Menurutnya, banyak orang beranggapan, bahwa wajah Penajam Paser Utara berada di pelabuhan “speedboat” dan kapal kayu atau klotok, serta pelabuhan kapal feri.

Namun ke depan, dengan terbangunnya kawasan pesisir dengan konsep “Water Front City” di wilayah Pantai Nipah-nipah, kata Yusran Aspar, disitulah wajah Kabupaten Penajam Paser Utara sesungguhnya.

Selain sebagai wajah Kabupaten Penajam Paser Utara, “Water Front City” tentunya akan menarik wisatawan yang pastinya akan meningkatkan perekonomian di daerah setempat.

“Kawasan pesisir pantai itu akan menjadi ikon Penajam Paser Utara, dan akan menarik wisatawan lokal maupun wisatawan asing,” ujar Yusran Aspar.

Gagasan Mantan anggota DPR RI membangun “Water Front City” di kawasan pesisir tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata, karena banyak sejumlah kabupaten/kota yang mengembangkan kawasan pesisir memberikan perubahan besar bagi daerah.

“Daerah yang mengembangkan wilayah pesisir memberikan perubahan bagi daerah, khususnya sektor pariwisata, “Water Front City” mampu menarik wisatawan,” tutur Yusran Aspar.

Daerah yang berhasil mengembangkan “Water Front City” adalah Kabupaten Siak, Provinsi Riau, dimana Kabupaten Siak menjadi tujuan wisata nasioanal, salah satunya karena adanya “Water Front City”.

Kabupaten Siak memiliki pesona eksotis, bagai magnet yang menarik untuk berhenti sejenak melihat psona alam, dimana gemericik air sungai dibalut ombak kecil menyempurnakan pandangan dikala senja.

Ditambah pijaran lampu jalan yang memantul ke air memberikan artistik tersendiri, kemudian di atas sungai terdalam di Indonesia itu dua jembatan berdiri membentang dengan kokohnya.

Hanya saja, di beberapa sisi masih terlihat pemandangan yang miris, kawasan yang tergolong kumuh masih tergambar dan menjadi pekerjaan rumah pemerintah.

“Jika dibandingkan, kondisi itu mungkin tidak jauh berbeda dengan lokasi rencana “Water Front City” di wilayah Nipah-nipah Kabupaten Penajam Paser Utara,” jelas Yusran Aspar.

Dengan kondisi di Pemerintah Kabupaten Siak, merancang “Water Front City” di pinggiran Sungai Siak, sebagai alternatif terbaik “menyulap” kawasan kumuh menjadi apik nan mewah dan menjadi destinasi wisata di negeri itu.

“Water Front City” itu meningkatkan daya tarik dan keindahan Sungai siak dan Kota Pekanbaru, sehingga bukan saja sebagai pusat bisnis, tetapi juga sebagai tempat yang indah dan menarik untuk dinikmati.

“Konsep “Water Front City” menjadi  konsep baru dalan penataan kawasan yang menggabungkan penataan pesisir dengan tetap menjaga aspek kelestarian lingkungan,” jelas Yusran Aspar.

“Water Front City” yang dirancang, lebar 500 meter dan panjang 8 Km pada sisi kiri dan kanan Sungai Siak, Kota Pekanbaru, dengan pengembangan kawasan aspek konservasi, revitalisasi, resettlement, renewal, dan aspek “upgrading”.

Dengan konsep “Water Front City” itu, Riau akan memiliki kawasan wisata pinggiran Sungai Siak menyerupai negeri kincir angin Belanda.

Kendati ada pro dan kontra pada 2010 lalu, dan beberapa permasalahan lainnya membuat penataan kawasan kota agar lebih bernilai mewah tak kunjung terealisasi.

Namun, berkat perjuangan besar kepala daerah, melalui berbagai pendekatan kepada masyarakat, akhirnya “Water Front City” dapat terwujud.

Kini hampir setiap hari, kawasan pinggiran Sungai Siak dipadati masyarakat untuk sekedar menikmati pesona eksotis alam, berkumpul bersama teman-teman hingga menikmati jajanan khas yang kerap ditawarkan di kawasan “Water Front City” pinggiran Sungai Siak.

Mulai dari pinggiran turap menuju bibir sungai yang dibangun permanen, tempat beristrihat, “walking area”, pepohonan hijau hingga tempat jajanan masyarakat yang ditata rapi menjadi prioritas penataan kawasan pinggiran Sungai Siak.

Desain “Water Front City” itu mengusung konsep minimalis dengan tidak meninggalkan kesan elegan, di pinggiran sungai yang menjadi penghubung beberapa kabupaten/kota di Riau itu. (adv/bp/*rol)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.