Sesepuh Dakwah Ahlul Bait : Pemerintah Jangan Gagap Menghadapi Kelompok Intoleran

Gusti

 

Makassar, helloborneo.com – Penyelenggaran peringatan terbunuhnya cucu Nabi Muhammad yaitu Hussain Bin Ali dan keluarganya, yang dikenal juga Asyuro oleh penganut Ahlul Bait atau Syiah banyak mendapatkan tekanan dari kaum intoleran.

Sejumlah  ormas diantaranya Alkalam dan Laskar Pemburu Aliran Sesat di Makassar selama beberapa hari melakukan demo terus menerus dan memasang spanduk  penggagalan acara tersebut. Gagap dan “menyerah” pada tekanan tersebut, akhirnya  pihak berwenang tidak memberikan izin kegiatan Asyuro kecuali dilakukan di tempat-tempat pribadi.

Penggagalan itu sendiri mendapatkan kecaman dari berbagai organisasi. LBH, KontraS, Jalin Harmoni  dan berbagai elemen masyarakat lain yang menganggap hal tersebut sebagai pelanggaran terhadap kebebasan berkeyakinan yang sudah dijamin oleh undang-undang dasar.

“Kita memberi penghargaan sebesar-besarnya kepada elemen-elemen masyarakat yang ingin melihat kebhinekaan ini terjaga, terutama terhadap MUI dan guru kita semua, KH Sanusi Baco dan Prof. Ghalib yang sepenuhnya tidak tunduk pada tekanan mereka dan  tidak mau menandatangani petisi pelarangan Asyura yang disodorkan pada keduanya walaupun diintimidasi,” ujar Buya Nasir, salah satu sesepuh Dakwah Ahlul Bait Sulsel (14/10).

Buya berharap pihak berwenang tidak terhegemoni oleh slogan-slogan mereka yang ingin membubarkan peringatan Asyuro demi NKRI, penistaan terhadap agama dan lain-lain. “Slogan demi NKRI yang dikumandangkan mereka sangat tidak sesuai dengan tindakan mereka sendiri yang intoleran. Bagaimana kesatuan negara bisa tercipta kalau propagandanya penuh ancaman dan permusuhan,” ujarnya.

Secara keseluruhan acara-acara peringatan Asyuro yang diselenggarakan di beberapa daerah di Sulsel berjalan baik, walau ada halangan-halangan tersebut. “Kita berharap program deradikalisasi secara terstruktur dan massif dijalankan oleh pemerintah. Jika tidak, pola pikir dan elemen-elemen intoleran tidak terlalu lama lagi akan semakin  menyebar pesat di tengah masyarakat, dan ini sangat berbahaya bagi kesatuan bangsa,” pungkasnya. (rol)

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.