Petani Balikpapan Berhasil Panen Bawang

Bagus Purwa

Bawang Merah.

Balikpapan, helloborneo.comPara petani Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, berhasil menanam dan panen bawang di Kota Minyak tersebut, dari 1 ton bibit yang ditanam didapat hasil panen 10 ton lebih.

“Kami tanam bibit unggul varietas Bima Brebes atau Label Ungu,” kata Ketua Kelompok Tani Hikma, Bahar, ketika dihubungi helloborneo.com di Gunung Bubukan, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur.

Para petani yang berjumlah 50 orang menanam bibit sebanyak 1 ton itu di lahan yang terpisah-pisah yang total luasnya 1 hektare.

Hasil panen pertama tidak seluruhnya dilepas ke pasar. Sebanyak separonya atau 5 ton disimpan untuk dijadikan bibit untuk masa tanam berikutnya.

Sesuai kesepakatan kami dengan BI, kata Bahar. BI adalah Bank Indonesia, yaitu Bank Indonesia Kantor Perwakilan Balikpapan yang menjadi pembina Kelompok Tani Hikma. BI juga yang menyediakan bibit tersebut.

BI juga menjadi sponsor mengirim anggota Kelompok Tani Hikma dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) belajar langsung ke Training Center Budidaya Bawang Merah di Brebes, Jawa Tengah selama seminggu pada Mei silam.

Sehingga nantinya, kata dia, petani bawang merah Balikpapan bisa mandiri bibit dan tidak lagi tergantung dari daerah lain, ujar Kepala Perwakilan BI Balikpapan Suharman Tabrani ketika dihubungi terpisah.

BI mendorong petani menanam bawang di Balikpapan dilatari oleh bawang sebagai satu penyebab inflasi di Kota Minyak, sementara tugas utama BI adalah menjaga inflasi agar tetap dalam tingkat yang wajar dan tidak menggerus daya beli masyarakat.

Seperti juga lombok atau cabai, hampir 100 persen kebutuhan bawang Balikpapan didatangkan dari luar daerah, terutama dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Sebab itu pengadaannya sangat tergantung pada ketersediaan di tempat asal, kelancaran transportasi, termasuk oleh cuaca.

Selain membantu pengadaan bibit, BI juga membuatkan gudang untuk penyimpanan dan pengasapan bibit dan hasil panen. Bibit yang berasal dari umbi yang baru dipanen perlu diasapi untuk mengurangi kadar airnya, agar lebih tahan dari serangan jamur dan bakteri yang membuat bawang cepat busuk.

“Semoga produksinya bisa terus bertambah dan pada akhirnya bisa mengurangi Balikpapan dari ketergantungan dengan pasokan daerah lain,” ujar Suharman Tabrani.

“Kebutuhannya mencapai 800 ton per tahun,” kata Kepala Dinas Pertanian Kelautan dan Perikanan (DPKP) Balikpapan M Yosmianto dihubungi secara terpisah.

Menurut Yosmianto, keberhasilan panen itu memberi optimisme bahwa suatu saat nanti para petani Balikpapan akan bisa mencukupi sendiri kebutuhan Kota. (bp/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.