Vaksinasi Campak-Rubella di Penajam Terkendala Fatwa MUI

Ari B
Penajam, helloborneo.com – Pelaksanaan vaksinasi campak-rubella (Measles-Rubella/MR) di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, terkendala fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait kehalalan vaksin yang baru terbit pada pertengahan September 2018.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten PPU, Arnold Wayong.

“Imunisasi massal dilaksanakan Agustus hingga September 2018, jadi tidak sedikit orang tua yang menolak anaknya diberikan suntikan vaksin campak-rubella,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara Arnold Wayong ketika dihubungi helloborneo.com di Penajam, Sabtu.

Tidak sedikit juga orang tua yang menolak anaknya disuntik vaksin campak-rubella lanjut ia, sebab terpengaruh berita tidak benar yang marak di media sosial.

Sehingga menurut Arnold Wayong, sampai akhir September 2018, vaksinasi campak-rubella yang dilaksanakan Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara hanya mencapai 65 persen dari 42.000 anak yang ditargetkan mendapat suntikan vaksin pada imunisasi massal tersebut.

“Imunsasi massal diperpanjang sampai Oktober 2018, karena masih banyak daerah yang belum mencapai target nasional, yakni 95 persen. Kami akan kejar target itu,” katanya.

Arnold Wayong berharap bantuan dan dukungan para orang tua, karena imunisasi massal campak-rubella yang diluncurkan pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan sangat penting bagi anak agar terhindar dari campak dan rubella.

Imunisasi Measles-Rubella/MR tersebut untuk mencegah penyakit campak Jerman, anak yang terkena campak akan mengalami risiko gangguan kesehatan hingga kerusakan otak, sedangkan pada ibu hamil bisa menyebabkan bayi yang dikandungnya mengalami risiko mendapatkan kelainan seperti terkena katarak, tuli hingga kebocoran klep jantung.

Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara kembali akan mendatangi sejumlah sekolah dan perkampungan warga untuk mencari anak-anak dengan rentang usia 0 sampai 15 tahun yang belum mendapat suntikan vaksin campak-rubella.

“Kami melakukan pengecekan kembali di sejumlah sekolah dan perkampungan warga agar anak-anak yang belum divaksin bisa mendapatkan vaksinasi campak-rubella karena sudah ada kejelasan dari MUI, bahwa vaksin campak-rubella itu mubah,” ujar Arnold Wayong.

Pengecekan ulang ke sejumlah sekolah dan perkampungan warga tersebut tambahnya, juga untuk mengejar agar vaksinasi campak-rubella mencapai 95 persen hingga akhir Oktober 2018, diperkirakan masih ada sebanyak 15.000 anak yang ditergetkan mendapat suntikan vaksin campak-rubella belum diimunisasi karena beberapa alasan.

“Kami melibatkan puskesmas, komite sekolah serta Dinas Pendidikan melakukan pengecekan kembali untuk memberikan suntikan vaksin campak-rubella kepada anak-anak yang belum diimunisasi karena keraguan orang tua terkait kehalalan vaksin,” ujar Arnold Wayong. (bp/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.