Revolusi 4.0, Antara Kecemasan dan Keuntungan

Arifuddin Rachmat Fisu, ST

Arifuddin Rachmat Fisu, ST (Kanan) saat bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla. (Ist)

Penajam, helloborneo.com – Revolusi 4.0 merupakan istilah yang digunakan untuk peralihan era industri berbasis elektronik dan IT (3.0), ke era otomatisasi robotik (4.0). Ditandai dengan penemuan teknologi mutakhir seperti IoT (Internet of Thing), penemuan ini dapat menghubungkan perangkat apapun satu sama lain menggunakan jaringan internet. Misalnya anda bisa mengatur alarm jam, yang saat menyala akan mengaktifkan mesin penyeduh kopi, sehingga ketika bangun sudah ada kopi tersedia. Serta penemuan AI (Artificial Intellegence) atau kecerdasan buatan, dengan kemampuan komputer berfikir seperti manusia, mengumpulkan informasi, mengolah informasi, dan bekerja menyelesaikan persoalan secara otomatis.

Serangkaian penemuan tersebut menawarkan kemudahan pekerjaan menggunakan teknologi, apa yang dulunya dikerjakan manusia akan  dikerjakan teknologi robotik, sehingga menimbulkan ketakutan hilangnya ranah pekerjaan yang menggunakan tenaga manusia.

Ketakutan ini diperkuat hasil riset McKinsey Global Institute yang merilis laporan bahwa pada tahun 2030, diperkirakan akan ada 800 juta pekerjaan manusia yang hilang akibat otomatisasi. Ancaman senada dikeluarkan The Economist dalam laporan khususnya yang menyebutkan setidaknya ada 20 jenis pekerjaan yang digantikan oleh teknologi. Antara lain profesi akuntan, ekonom, masinis, auditor, diperkirakan akan musnah. Dengan hadirnya tekonologi mutakhir, kemampuan manusia untuk mengontrol mesin dan mengolah informasi tidak diperlukan lagi, karena mesin dapat menjalankan dirinya sendiri.

Antara Kecemasan dan Keuntungan

Untuk mengatasi kecemasan otomatisasi robotik, kampanye penguasaan teknologi berbasis komputer masif terdengar, mengakibatkan ramainya pelaku industri startup dianggap sebagai profesi di bidang industri kreatif yang bebas dari ancaman otomatisasi. Rhenald Khasali menyebut peralihan era ini sebagai disruption, memang mensyaratkan kebutuhan peralihan kemampuan ke penguasaan teknologi, seperti ilustri hilangnya buruh panggul pelabuhan akibat adanya mesin crane dan forklit pada pelabuhan.

Namun apakah solusi penguasaan teknologi untuk beralih ke bidang ecommerce atau bisnis online, tidak akan menyebabkan tingginya persaingan tenaga kerja?. Seperti pada saat ini, permasalahan awal kita masih sama, kurangnya penyerapan tenaga kerja dan membludaknya jumlah tenaga kerja. Jangan lupa pula, kita akan mengalami bonus demografi yang mengakibatkan ledakan angkatan tenaga kerja.

Maka bisnis online yang berada pada ranah digitalisasi sebenarnya bukanlah jalan keluar mumpuni, karena bisnis online juga mengalami otomatisasi, seperti ilustrasi toko online yang sudah tidak memerlukan sama sekali tenaga manusia dalam transaksi jual beli, diakibatkan adanya AI berupa kemampuan mengolah algoritma yang begitu kompleks dengan tingkat presisi yang tinggi. Singkat kata, AI mampu mengolah data dari hasil input pengguna lalu memberikan hasil sesuai keinginan pengguna.

Otomatisasi menawarkan efisiensi kerja, lebih cepat, dan lebih murah daripada menggaji pegawai. Jika kita menelisik lebih dalam sejarah setiap fase revolusi industri, tidak satupun fase yang terlepas dari kebutuhan pekerja manusia sebagai penopang ataupun yang menjalankannya. Manusia tidak  pernah alpa dari setiap fase kehidupan, terutamanya kerja. Garis akhir dari industri adalah konsumsi, manusia adalah garis akhir tersebut, agar manusia bisa terus mengonsumsi maka manusia perlu upah yang didapatkan dari kerja.

Daripada terus terjebak dalam kecemasan, seharusnya kita melihat kehadiran AI memudahkan dan memendek jam kerja manusia, dengan berkurangnya jam kerja mengakibatkan manusia memiliki lebih banyak waktu untuk menikmati kehidupannya, coba saja ingat berapa waktu bercengkrama bersama teman dan keluarga yang kita lewatkan akibat banyaknya waktu yang dihabiskan di tempat kerja. Akibat lelah bekerja, kita mulai kehilangan sensitivitas kepada manusia lain, yang sebenarnya adalah hakikat dasar dari manusia.

Jika dipandang dari sudut pandang lain, AI adalah sebuah kesempatan bagi manusia untuk kembali kepada hakikatnya sebagai mahluk sosial, memberikan manusia waktu untuk berkomunikasi dan mengenal manusia lain, memikirkan keinginan hidup yang membahagiakan, dan yang paling penting manusia punya waktu untuk memikirkan tatanan kehidupan sosial yang lebih baik.

Namun, pandangan lain terhadap kehadiran AI memang tidak akan semudah itu terwujud. Sederhananya, jika dengan waktu kerja banyak saja kita sudah kesusahan dalam menjalani hidup, apalagi jika dengan berkurangnya jam kerja. Justru, pola pikir seperti ini yang harus kita tolak, guna memahami sekaligus menyadari kesusahan hidup berasal dari sistem kerja dengan jam kerja yang banyak.

Permasalahan yang (Masih) Sama

Dalam berbagai esai yang ditulis Hizkia Yosie Polimpung menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada yang benar-benar baru dalam revolusi industri 4.0, utamanya dalam relasi kerja manusia. Seperti prinsip akumulasi primitif yang diungkapkannya, yaitu pemisahan para pekerja dengan mesin produksi, sehingga manusia terus menjadi pekerja upahan.

Contoh yang diberikan Hizkia Yosie adalah kemampuan sebuah robot diambil dari kemampuan manusia, dimana kemampuan manusia diamati, dianalisis, lalu dipindahkan ke dalam mesin berupa robot. Selanjutnya robot tersebut dipasarkan kepada manusia lain, sedang manusia awal yang kemampuannya diambil robot kini harus bersaing dengan robot tersebut dalam pasar. Kondisi ini yang membawa manusia pada permasalahan yang sama seperti sebelumnya, mau itu waktu kerja yang banyak dan kurang, para pekerja  terus bergantung kepada upah yang tidak memadai.

Sekilas contoh tersebut terlihat seperti aksi pencurian dan monopoli, aksi tersebut sejatinya sudah berlangsung sejak dulu kala, bahkan industri startup yang dipandang paling modern dan memajukan perekonomian para kalangan muda tidak terlepas dari persoalan ini. Misalnya saja, seorang anak muda punya ide berilian yang dapat memudahkan kehidupan manusia lain, ide tersebut lalu dituangkan kedalam model aplikasi startup yang seiring waktu butuh banyak pengembangan yang juga butuh dana tidak sedikit, disinilah proses akusisi ide tersebut oleh para pemodal yang menawarkan bantuan pendanaan sekaligus mengakusisi kepemilikan saham.

Ilustrisasi diatas benar-benar terjadi pada berbagai perusahaan startup, akusisi tersebut kini menempatkan sang penemu ide berdirinya perusahaan tersebut menjadi seorang pegawai di perusahaan yang dia dirikan, yang selanjutnya berinovasi untuk mendatangkan keuntungan bagi para pemodal.

Revolusi 4.0 yang mengantarkan kita pada agenda otomatisasi tidak akan membawa kita pada kemakmuran dan kesejahteraan hidup jika penguasaan akan teknologi masih dimonopoli oleh sebagian kalangan, padahal niat awal dari penemuan teknologi adalah mempermudah kehidupan seluruh manusia, bukan menempatkan manusia lain dalam kesusahan maupun kemiskinan.

Posisi kita juga akan mungkin sama dalam revolusi 4.0 ini, yaitu pekerja upahan yang tetap tidak berkecukupan. (tan)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.