Pengangguran Terdidik : Gengsi vs Realita

Nova Nauli Harahap, SST

 

ASN Badan Pusat Statistik Kabupaten Penajam Paser Utara

 

Nova Nauli Harahap, SST
ASN Badan Pusat Statistik Kabupaten Penajam Paser Utara

Penajam, helloborneo.com – Pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KEMENPAN-RB) menetapkan kuota calon pegawai negeri sipil (CPNS) cukup besar mencapai 236.015 kursi pada tahun 2018 (Permen PAN-RB Nomor 36 Tahun 2018). Formasi CPNS  Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) sebesar 160 kuata berdasarkan Keputusan Menteri PAN-RB No. 432 Tahun 2018. Laman resmi Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan PPU menyebutkan ada sekitar 2.325 berkas yang dinyatakan lulus dan tidak lulus seleksi, berarti bahwa jumlah pelamar banyaknya lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan jumlah formasi yang tersedia.

Jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) PPU pada tahun 2018 sebesar 3.563 menurun sekitar 60 orang atau 1,68 persen dibandingkan tahun 2016. Jumlah ASN semakin menurun diakibatkan karena tidak adanya penerimaan sejak 3 tahun terakhir  selain karena pensiun dan banyak yang pindah keluar daerah.

Jika ditelaah lebih lanjut kuota formasi yang dibutuhkan merupakan lulusan perguruan tinggi. Pembatasan tingkat pendidikan selain diharapkan mendapatkan kualitas pegawai yang baik juga dapat menjadi salah satu alternative mengatasi permasalahan pengangguran.

Namun demikian permasalahan penggangguran saat ini adalah tidak seimbangnya supplay dan demand tenaga kerja. Pencari kerja yang  sangat ingin menjadi PNS tidak akan seluruhnya terpenuhi. Prihatinnya, mereka yang dinyatakan gugur dalam seleksi akan bersikeras menunggu untuk ikut seleksi di waktu yang berikutnya. Bagi yang belum berkesempatan belum ada jaminan mereka untuk mencari pekerjaan lain atau bahkan membuka usaha baru dengan sungguh-sungguh. Jika pun ada belum dianggap sebagai pekerjaan tetap hanya sebagai batu loncatan untuk mengisi kekosongan saat ini.

Sehingga jika dipastikan mereka berpikir seperti itu maka terjadilah penumpukan permintaan tenaga kerja yang berlatar belakang tingkat pendidikan dan keahlian khusus untuk pekerjaan tertentu. Dari sini mungkin akan timbul pengangguran terdidik.

Pengangguran terdidik adalah seseorang yang telah lulus pendidikan dan ingin bekerja namun belum mendapatkan perkerjaannya, biasanya dari kelompok masyarakat menengah keatas yang memungkinkan adanya jaminan kehidupan meski tidak bekerja dan enggan mencoba pekerjaan baru yang dianggap tidak sesuai dengannya.

Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) 2017 (Badan Pusat Statistik) menyebutkan bahwa Tingkat Penganguran Terbuka (TPT) sebesar 4,75 persen. Berdasarkan tingkat pendidikan, TPT dengan lulusan SMA/SMK sebanyak 59,09 persen, disusul  dengan S1 ke atas sebanyak 7,33 persen dan diploma 3,62 persen. Untuk pengangguran dengan pendidikan SMP kebawah sebanyak 29,96 persen.

Informasi diatas memperlihatkan bahwa pengangguran di Kabupaten Penajam Paser Utara didominasi oleh angkatan kerja berpendidikan tinggi. Penggangguran SMK/SMA yang lebih dari 50 persen merupakan paling tinggi diantara lainnya. Data pencari kerja terdaftar di Dinas Tenaga Kerja PPU untuk pendidikan SMA/SMK sebanyak 580 orang, Diploma 100 orang dan Sarjana keatas sebanyak 128 orang. Sedangkan SLTP kebawah sebanyak 198 orang.

Ini berarti ada penawaran yang tidak terserap pada tingkat pendidikan tersebut. Apalagi kita lihat saat ini formasi lulusan SMA/SMK sangat terbatas, kebanyakan perusahaan/lembaga dan instansi membutuh pekerja fresh graduate dari universitas, atau kebalikannya pekerja kasar yang didominasi SD ke bawah yang bisa diminta untuk mengerjakan apa saja.

Fenomena pengangguran SMP kebawah juga masih harus dikaji ulang  padahal potensi daya serap sektor informal cukup banyak apalagi jika mau mengerjakan apa saja  yang penting dapat memenuhi kebutuhan melihat daerah ini masih dalam tahap berkembang secara industri. Tapi tidak demikian bahwa mereka berpendidikan rendah belum tentu mau menerima pekerjaan apa saja yang penting menghasilkan nilai tambah.

Gengsi Kuat dan Maunya Pekerjaan Modern.

Menilik Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “Gengsi mengandung pengertian kehormatan, pengaruh, harga diri dan martabat”. Walaupun perlu kita sadari pemikiran individu berbeda – beda terhadap implementasi pekerjaaan dengan lingkungan/organisasi. Sebagai contoh untuk masyarakat  tradisional, seseorang harus bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya atau dengan kata lainnya bekerja untuk mendapatkan penghasilan yang digunakan untuk pangan, sandang dan papan. Sedangkan untuk masyarakat modern berkerja tidak untuk semata mata sandang, pangan dan papan melainkan untuk mencukupi kebutuhan lainnya seperti rekreasi, kegiatan spiritual, berpesta, pendidikan tinggi, gaya hidup dan status sosial lainnya.

Dari cara pandang seperti ini tidak heran lagi menunjukkan bahwa fenomena gengsi pencari kerja saat ini  memiliki nilai dan harapannya tersendiri. Tidak ada yang salah sebenarnya, namun terlalu berlebihan jika dipaksakan.

Jumlah lulusan sekolah dan perguruan tinggi tiap tahunnya meningkat dengan pesat. Namun demikian tetap tidak seimbang dengan jumlah formasi pekerjaan yang ada sehingga muncul pengangguran terdidik. Hal ini telah mengakibatkan tekanan yang cukup besar pada bursa tenaga kerja di Kabupaten PPU  khususnya wilayah perkotaan. Disamping itu, tradisi lulusan sekolah yang baru lebih memilih jenis pekerjaan dikarenakan gengsi sebagai tolak ukurnya ketimbang memaknai bahwa hakikat bekerja sangat potensial melahirkan mereka sebagai pengangguran.

Gambaran yang paling menonjol dari pengangguran di wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara terorientasi pada usia muda berumur 15-24 tahun. Jumlah mereka mencapai dua atau tiga kali dari rasio seluruh pekerja, sehingga tidak mengherankan kalau pengangguran didominasi mereka yang berpendidikan baik.

Mari kita kaji antara periode dan masa tunggu atau periode sebelum mendapatkan pekerjaan setelah lulus melahirkan tiga asumsi diantaranya pertama, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin besar kemungkinan upah yang ditawarkan, namun semakin lama kemungkinan periode pencari kerja, kedua,  semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin tinggi berkesempatan  untuk  mendapatkan biaya selama mengganggur, namun semakin pendek kemungkinan periode pencarian kerja, ketiga, semakin besar bantuan financial dari keluarga semakin lama periode pencarian kerja.

Ubah Strategi Mindset Formal ke Informal.

Teori Human Capital dijelaskan bahwa “seseorang dapat meningkatkan penghasilan dengan meningkatkan dari pengetahuan, keterampilan dan inovasi, keseluruhan ini merupakan kombinasi”. Menurut Simth dan Ehrenberg (1990) “pekerja dalam hal ini melakukan tiga jenis  investasi berupa pendidikan dan pelatihan, migrasi dan pencarian kerja baru, serta perbaikan gizi dan kesehatan”. Dalam Pidato Theodore W Schutlz (1960) yang berjudul “Invesment  in human capital” dihadapan American Ecomonic Association merupakan dasar teori human capital modern yang menjelaskan bahwa proses perolehan pengetahuan dan keterampilan manusia  bukan merupakan bentuk  barang konsumsi semata-mata akan tetapi juga merupakan suatu bentuk investasi.

Pengangguran terdidik adalah salah satu bentuk keterampilan dan keahlian manusia yang tidak bisa dimanfaatkan dengan baik. Mereka  yang  berpandangan modern lebih memilih pekerjaan formal yang menempatkan posisi enak, pake pakaian keren, banyak fasilitas dan gaji besar. Para sarjana umumnya juga tidak mau memulai karier dari bawah. Budaya malas juga disinyalir sebagai penyebab tingginya angka penggangguran sarjana.

Mirisnya, lapangan kerja formal mengalami penurunan disebabkan melemahnya kinerja sektor rill dan daya saing Indonesia, sehingga berkurangnya permintaan tenaga kerja terdidik. Ditambah lagi persaingan SDM dengan teknologi yang menjadikan tanda dimulainya revolusi industri 4.0.

Strategi mudah bagi pemerintah pusat dan daerah dapat memanfaatkan penyerapan tenaga kerja di sektor informal. Tahun 2017 menurut data BPS penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja sebanyak 47,33 persen berstatus buruh/karyawan/pegawai. Transisi peralihan sektor formal menjadi informal dianggap jawaban yang cepat, tepat dan mudah atas masalah ketenagakerjaan terutama pengangguran terdidik.

Sektor informal terbukti memiliki kemampuan penyerapan tenaga kerja yang sangat tinggi, selain mudah diciptakan, modal yang dibutuhkan  juga relatif kecil serta mudah untuk berpindah sektor usaha karena pengeluraannya tidak terlalu kompleks sehingga lebih fleksibel. Pencari kerja yang memiliki pendidikan tinggi  ditambah dengan penguatan kemampuan wirausaha akan memperkokoh sektor kerja informal. Sektor informal akan dapat mengurangi pengangguran terdidik namun juga menambah lapangan perkerjaan baru. Dan tak kalah pentingnya sektor ini menjadi saluran urbanisasi penduduk desa ke kota yang paling mudah, murah serta bersifat menyeluruh.

Namun bagaimana jika gagal atau tidak digunakan? Kemungkinan  besar pendidikan tinggi yang mereka miliki dijadikan modal untuk aktivitas yang tidak diinginkan. Penggangguran terdidik yang terlalu tinggi juga mengakibatkan kekacauan politik, keamaanan dan sosial sehingga menghambat pertumbuhan dan pekembangan ekonomi. Selain itu juga pengangguran jangka panjang menurunkan produk domestik bruto (PDB) dan pendapatan per kapita. Untuk itu mari kita coba ubah mind set untuk lebih mengedepankan relaita daripada gengsi. Lapangan pekerjaan cukup banyak. Gali potensi diri demi masa depan lebih baik.(tan)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.