Penajam Ditetapkan Waspada Serangan Nyamuk “Aedes Aegypti”

Bagus Purwa

Penajam, helloborneo.com – Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, ditetapkan sebagai daerah berstatus waspada terhadap serangan nyamuk “aedes aegypti” pembawa penyakit demam berdarah dengue atau DBD.


Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara, Eka Wardana.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara, Eka Wardana saat ditemui helloborneo.com di Penajam, Kamis, mengatakan, nyamuk pembawa penyakit demam berdarah berkembangbiak dengan cepat pada kondisi iklim pancaroba.

Pada kondisi iklim pancaroba seperti saat ini, lanjut dia, serangan penyakit demam berdarah yang tergolong berbahaya itu bisa muncul kapan saja dan di mana saja.

Apalagi serangan penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk “aedes aegypti” tersebut terus menerus muncul sepanjang waktu, yakni hingga saat ini tercatat 48 warga Kabupaten Penajam Paser Utara terkena penyakit demam berdarah.

Eka Wardana menyebutkan, hingga kini ditemukan 48 kasus dengan kematian satu bayi laki-laki berusia 3 tahun akibat demam berdarah di Kabupaten Penajam Paser Utara.

“Jumlah kasus DBD itu meningkat cukup signifikan dibanding sepanjang 2018 yang hanya 46 kasus. Belum dua bulan jumlah kasus DBD 2019 lebih tinggi dari tahun lalu,” jelasnya.

Dengan terjadinya peningkatan kasus demam berdarah yang cukup signifikan tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara menetapkan status waspada serangan DBD.

“Masih ditetapkan status waspada, tetapi apabila terjadi peningkatan kasus DBD pada bulan berikutnya akan masuk kategori KLB (kejadian luar biasa),” ujar Eka Wardana.

Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara akan melakukan evaluasi dalam tiga bulan ke depan, untuk melihat ada peningkatan kasus demam berdarah yang signifikan atau tidak di daerah setempat.

Penyebab serangan demam berdarah tersebut menurut Eka Wardana, karena cuaca yang tidak menentu, hujan dan panas berganti-ganti. Hujan yang kerap turun membuat genangan air menjadi tempat bertelur nyamuk “aedes aegypti”.

“Penyakit yang paling membahayakan saat kondisi iklim pancaroba adalah demam berdarah, jika penanganannya terlambat maka akan membahayakan jiwa,” ucapnya. (bp/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.