Produksi Cabai Rawit Di Penajam Cukup Berlimpah

Bagus Purwa

Lahan Tanaman Cabai di Kelurahan Kampung Baru, Penajam.

Penajam, helloborneo.com – Produksi lokal cabai kecil atau rawit di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, cukup melimpah dan dapat mencukupi kebutuhan atau permintaan masyarakat di daerah itu.

“Produksi petani cabai kecil di Kabupaten Penajam Paser Utara mencapai sekitar 10.000 ton per bulan,” jelas Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Penajam Paser Utara Surito Widarie ketika ditemui helloborneo.com, Selasa.

Sedangkan kebutuhan cabai rawit masyarakat Kabupaten Penajam Paser Utara lanjut ia, lebih kurang 2 sampai 3 ton per bulan, sehingga produksi lokal cabai kecil cukup untuk memenuhi permintaan masyarakat.

Dengan berlimpahnya produksi cabai kecil tersebut jelas Surito Widarie, komoditas cabai rawit produksi petani Kabupaten Penajam Paser Utara juga disuplai ke Kota Balikpapan.

“Produksi petani lokal cabai rawit bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, bahkan juga dijual ke pasaran Kota Balikpapan,” ujarnya.

Luas areal lahan tanam cabai kecil milik masyarakat yang tersebar di empat kecamatan di Kabupaten Penajam Paser Utara saat ini mencapai sekitar 80 hektare.

Berlimpahnya produksi cabai kecil tersebut menurut Surito Widarie, juga didukung dengan program kawasan rumah pangan lestari yang dikembangkan di empat kecamatan di Kabupaten Penajam Paser Utara.

Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Penajam Paser Utara katanya, menjalankan program kawasan rumah pangan lestari dari pemerintah pusat.

“Salah satu produksi program kawasan rumah pangan lestari itu cabai rawit untuk memenuhi kebutuhan di wilayah Penajam Paser Utara,” ucapnya.

Dalam pogram kawasan rumah pangan lestari tersebut kelompok tani wanita di Kabupaten Penajam Paser Utara menanam cabai kecil di pekarangan rumah agar kebutuhan di desa/kelurahan terpenuhi.

Program kawasan rumah pangan lestari dikembangkan dengan pemanfaatan petak lahan pekarangan untuk tanaman produktif yang dibutuhkan sehari-hari bagi keluarga dan memberdayakan potensi pangan lokal. (bp/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses