
Tenggarong, helloborneo.com – Menanam benih padi di kawasan perairan Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis tengah dilakukan oleh salah seorang petani asal Tenggarong, Usthuri. Ujicoba metode budidaya padi terapung tersebut telah dilakukan sejak 2019 lalu.
Usthuri mencoba membuka peluang bagi warga desa remote area itu untuk memiliki upaya lain dalam meningkatkan kesejahterahaan dari segi ketersediaan pangan. Ia membawa bibit beras ke kawasan tanpa daratan, upaya ini memang tidak lazim, namun ia meyakini bahwa kondisi air memiliki Potential Hydrogen (PH) yang cocok untuk tanaman padi.
Diakui petani yang aktif di Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) Panji Sejahterai Kelurahan Panji, Tenggarong menanam padi terapung ini bukan hal yang mudah. Bahan baku masih sulit didapatkan di Muara Enggelam, yaitu bambu tidak tumbuh di desa tersebut.
Usthuri mempersiapkan kain kasa yang diikat dengan bambu sebagai penyangga tanah yang menjadi media tanam.
“Untuk ukuran baku satu media dibuat dengan ukuran dengan lebar maksimal 2 meter dan panjang tergantung dari bahan baku yang ada. Jika lebih dari 2 meter kita susah untuk nanam,takutnya gampang tenggelam, panjangnya kalau misal ada 12 meter ya bisa aja,” ujar Usthuri, Senin (2/11/2020).
Berdasarkan uji coba pada tahun 2019 lalu, dengan ukuran 2 kali 1 meter mampu menghasilkan 3 kilo beras dengan waktu panen selama 120 hari sejak ditanam.
Siapa tahu kedepannya bisa buat swasembada beras Muara Enggelam,” tegasnya.
Usthuri menambahkan agar tidak merusak habibat ikan yang hidup di perairan tersebut, ia menggunakan pestisida organik yang ramah lingkungan .
Terobosan tersebut bisa dikatakan layak diikuti oleh warga desa sebagai kegiatan alternatif dalam bertahan hidup yang mayoritas bekerja sebagai nelayan.
Diketahui Muara Enggelam sebuah desa yang kini akrab diakronimkan dengan kata “Mueng” ini berdiri diatas perairan luas yang masih termasuk kawasan danau melintang seluas 11 hektare.
Diketahui jarak tempuh dari Tenggarong untuk sampai ke Desa Mueng melalui jalur darat ke pelabuhan Tradisional Kayu Batu di Kecamatan Muara Muntai sekitar 3 jam.
Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan perahu kecil dengan waktu tempuh 1,5 jam menyusuri danau melintang sebelum sampai di Desa Muara Enggelam. (/sop/hb)
















