Ari B

Penajam, helloborneo.com – Legislator atau anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau DPRD Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Syarifuddin HR mengatakan pertanian tanaman padi di daerah itu masih terkendala sumber air untuk mengairi lahan persawahan.
“Harapan petani bisa panen tiga kali dalam setahun,” ujar politisi Partai Demokrat tersebut ketika ditemui helloborneo.com di Penajam, Kamis.
“Tapi itu sulit tercapai jika pemerintah provinsi dan puast tidak memperlancar pembangunan bendung gerak Sungai Talake,” tambah Syarifuddin HR.
Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara menurut dia, telah berulang kali mengusulkan percepatan pembangunan bendung gerak Sungai Talake untuk memenuhi kebutuhan pengairan ribuan hektare lahan persawahan.
Sebagian besar masyarakat petani di wilayah Penajam Paser Utara, sejauh ini hanya mengandalkan atau bergantung pada tadah hujan untuk mengairi lahan pertanian tanaman padi.
Keterbatasan ketersedian air untuk mengairi lahan persawahan tersebut kata Syarifuddin HR, mengakibatkan kegiatan alih fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan kelapa sawit.
“Kami harap pemerintah provinsi dan pusat membantu percepatan pembangunan bendung gerak Sungai Talake untuk irigasi lahan persawahan, terutama yang ada di wilayah Kecamatan Babulu,” ucapnya.
Syrifuddin HR juga meminta kepada pemerintahan desa dan kecamatan agar lebih memperhatikan kegiatan alih fungsi lahan pertanian tanaman padi sebagai persiapan pemindahan ibu kota negara Indonesia ke wilayah Kecamatan Sepaku.
Apalagi lanjut ia, Kabupaten Penajam Paser Utara digadang-gadang menjadi lubung padi di Kalimantan Timur, pemerintah provinsi dan pusat harus turut serta memperlancar pembangunan sarana prasarana sumber air untuk irigasi lahan persawahan.
“Dari beberapa tahun yang lalu kendala pertanian itu ketersediaan air atau irigas, padahal sudah diperjuangkan pemerintah kabupaten dan provinsi untuk memenuhi kebutuhan pengairan itu,” jelas Syarifuddin HR. (bp/hb)
















