Tahun 2021, Terdata Hanya 30 Desa Masuk Daftar Desa Rawan Pangan

Foto Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Holtikuktura, Taharuddin.

Tana Paser, helloborneo.com – Meskipun mengalami penurunan jumlah titik desa rawan pangan di Kabupaten Paser, Dinas Ketahanan Pangan dan Holtikuktura Kabupaten Paser mengungkapkan saat ini kerawanan pangan masih dialami sebagian wilayah di Kabupaten Paser. Sebanyak 139 desa yang tersebar di 10 kecamatan, ada 30 desa yang masuk dalam kategori rawan pangan.

“Ini pemetaan nasional. Pada tahun 2017, ada 77 desa yang masuk dalam kategori rawan pangan. Lanjut di tahun 2019 mengalami penurunan menjadi 40 desa saja. Saat ini periode 2020 hingga 2021 masih tersisa 30 desa,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Holtikuktura, Taharuddin, Selasa (1/6/2021).

Wilayah ketahanan pangan itu, tersebar di beberapa kecamatan. Diantaranya. Kecamatan Batu Engau, Muara Samu, Tanjung Harapan, hingga Kecamatan Long Kali. Ia menuturkan indikasi desa masuk rawan ketahanan pangan tidak hanya komoditas ketersedian pangannya yang kurang, namun beberapa faktor lain turut mempengaruhi. Misal, akses jalan, lahannya kurang, daya beli masyarakat, varian komoditas kebutuhan pokok, hingga tenaga kesehatan.

“Ada nggak tenaga kesehatannya. Yang bisa mengatasi bagaimana pangan itu bisa diproduksi dengan baik, gizi seimbang. Dan untuk akses, bagaimana pangan itu bisa sampai ke desa-desa. Kalau aksesnya kurang bagus,” terangnya.

Pun dengan varian komoditasnya harus diperhatikan. Tak hanya ada karbohidrat, juga tersedianya protein, lemak dan serat semua itu harus seimbang.

“Kalau protein tak terpenuhi, maka cenderung mengonsumsi pangan yang tinggi karbohidrat,” jelasnya.

Selain mengonsumsi beras, masyarakat secara perlahan dapat pula mengkonsumsi makanan pengganti. Seperti umbi-umbian. Guna melepas atau menurunkan angka desa rawan akan ketahanan pangan pihaknya terus melakukan komunikasi lintas program dengan beberapa instansi terkait.

Seperti akses jalan di Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR), Dinas Ketahanan Pangan dan Holtikultura, Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan dan Peternakan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Mikro (Disperindagkop).

“Jadi sinergi melalui lintas program. Misal DPUTR terkait jalan desa maupun irigasi primer. Kami juga aktif sosialiasi dan intervensi program kepada masyarakat. Seperti penanaman dengan urban farming (memanfaatkan pekarangan rumah atau dengan polybag),” jelas Taharuddin.

Sebagai catatan, dari 30 desa rawan pangan di Kabupaten Paser, terdiri dari 3 prioritas. Yakni, prioritas pertama adalah desa yang sangat rentan mencapai 8 desa, prioritas kedua kategori desa rentan terdapat 13 desa, serta prioritas ketiga yairu agak rentan masih tersebar di 9 desa. (/sop/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.