Toxic Relationship: Cinta, Sianida, dan Perempuan Korban Manipulasi Perasaan

Tun MZ

Yogyakarta, helloborneo.com – Enam bulan lalu, Nani Apriliani Nurjaman mengirim sate bersianida ke Yohanes Tomi Astanto karena rasa kecewa. Pekan kemarin, keduanya bertatap muka secara daring di pengadilan. Kisah ini menjadi contoh, bagaimana perempuan dikalahkan dalam hubungan beracun atau toxic relationship.

Kasus ini sempat menggemparkan Yogyakarta, karena sate beracun sianida itu salah sasaran. Anak pengemudi ojek daring yang mengirim sate itu meninggal, setelah ayahnya membawa pulang kiriman sate itu, karena penerima yang dituju menolak.

Hari Kamis (21/10), Nani menjalani persidangan kasus yang membelitnya dari Lembaga Pemasyarakatan Perempuan, Wonosari, Gunungkidul. Sedangkan Tomi, yang menyimak ratapan Nani, duduk sebagai saksi di Pengadilan Negeri Bantul, Yogyakarta.

“Terima kasih untuk tahun-tahun yang sudah kita lalui bersama-sama dengan penuh cinta, kasih sayangmu yang luar biasa. Perhatianmu yang luar biasa,” kata Nani.

Hakim memang mempersilakan Nani mengungkapkan isi hatinya. Sehingga perempuan itu leluasa mengungkap apa yang dia sebut sebagai kebohongan luar biasa dari mulut manis Tomi. Berdasar kesaksian itu, keduanya ternyata telah menjalin hubungan cinta sejak 2017. Di awal pacaran, kata Nani, sempat ada pembicaraan terkait rencana menikah. Yang tidak dia ketahui, pada September 2017, Tomi yang juga anggota polisi di Polda DIY, menikah dengan perempuan lain.

Menurut Nani, hubungan mereka masih berlangsung sampai awal tahun ini. Tomi sendiri mengaku, meski sudah beristri, masih bertemu Nani.

“Kadang ketemu, ngajak makan tetapi jarang-jarang,” ujarnya di persidangan.

Menurut pengakuan Tomi juga, mereka terakhir bertemu pada Februari 2021. Nani bercerita, berulangkali menagih janji pernikahan, tetapi laki-laki itu terus berkelit, antara lain dengan alasan perbedaan agama.

Hingga kesabaran Nani habis, dan sate beracun sianida itu dia kirim pada 25 April 2021. Beberapa hari kemudian Nani tertangkap, dan ditetapkan sebagai tersangka.

“Motifnya sakit hati, karena target menikah dengan orang lain,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIY, Kombes Burkan Rudy Satriya di Mapolres Bantul, Senin, 3 Mei 2021.

Jeratan Toxic Relationship

Kasus yang menimpa Nani dan Tomi, menjadi salah satu contoh terkait toxic relationship atau hubungan beracun. Meski ada sianida dalam asmara dua orang ini, tetapi racun yang dimaksud dalam toxic relationship adalah sesuatu yang tidak terlihat mata, yaitu sifat hubungan itu yang tidak sehat.

Lillian Glass, seorang pakar dan penulis buku di Amerika Serikat, membahas mengenai toxic relationship dalam bukunya yang terbit pada 1995, yaitu “Toxic People”. Dia memaparkan, toxic relationship adalah hubungan yang dibangun di atas konflik, persaingan, dan kebutuhan satu orang untuk mengontrol yang lain. Hubungan semacam ini tidak sehat, karena jalinan asmara tidak dibangun dengan perasaan tulus. Dalam kasus tertentu, kondisi ini juga bisa berbahaya secara fisik bagi pasangan yang menjadi korban.

Dwi Lestari, staf program di Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DI Yogyakarta setuju menggolongkan kisah ini sebagai toxic relationship. Laki-laki ini, kata Dwi, sudah memiliki pasangan atau istri, tetapi juga memiliki Nani sebagai kekasih.

“Itu berarti ada penduaan hubungan. Dan ketika itu terjadi, bisa dikatakan relationship-nya sangat tidak sehat, karena laki-laki ini berusaha melakukan manipulasi perasaan ke istrinya, begitupun ke pacarnya ini,” kata Dwi, Senin (25/10).

Dalam hubungan semacam itu, akan ada kebohongan dan proses memberikan janji-janji tertentu. Pihak perempuan bersedia bertahan, karena proses itu hingga batas waktu di mana dia tidak bisa menerimanya lagi.

Dwi mengatakan, toxic relationship sangat banyak ditemukan di tengah masyarakat. Sebagai lembaga yang juga membukan konsultasi keluarga, PKBI DIY juga menerima konseling terkait isu ini.

Dalam kasus di terakhir yang bahkan sampai ke meja hijau, tutur Dwi, sebenarnya masyarakat juga harus bersikap adil terhadap Nani. Tidak berhenti pada soal racun sianida, tetapi harus ditelaah pula apa yang terjadi sehingga perempuan itu bertindak demikian. Dwi menilai, Nani adalah contoh perempuan korban manipulasi laki-laki. Karena manipulasi itu, Nani mau bertahan sekian lama.

“Kita perlu melihat bagaimana dia bisa melakukan itu, karena ada sebuah kemarahan. Bagaimana dia selama bertahun-tahun dibohongi, dan ternyata laki-laki ini sudah memiliki istri,” ujar Dwi.

Di sisi lain, keputusan Nani untuk mengirim makanan beracun juga patut disayangkan. Dwi menyarankan, untuk perempuan yang berada dalam toxic relationship serupa, agar mencari konselor. Ada banyak lembaga di seluruh Indonesia yang peduli dengan persoalan semacam ini. jalan keluar lebih baik tentu akan bisa ditemukan, misalnya dengan menghubungi atau melaporkan pelaku ke instansi tempat dia bekerja untuk mencari penyelesaian.

Dwi menambahkan, apapun jalan keluarnya, konseling adalah pilihan terbaik bagi perempuan korban toxic relationship. Dia juga mengingatkan, siapapun, dari kelompok umur remaja maupun dewasa, sebaiknya menghindari toxic relationship.

Etika Harus Ditegakkan

Satu hal dipertanyakan Baharuddin Kamba dari Jogjakarta Police Watch, yaitu tidak adanya persoalan etik dalam kasus ini, kepada Tomi sebagai anggota polisi Polda DIY. Kamba mengakui, Tomi sudah menjalani pemeriksaan, tetapi dia tidak melihat sidang etik tidak dilakukan kepadanya.

Di awal-awal kasus ini merebak, sempat tersiar dugaan pernikahan siri antara keduanya. Salah satunya datang dari tetangga dekat Nani. Namun, kepolisian membantah dugaan pernikahan siri ini.

Kamba menegaskan, sebagai aparat negara, tentu saja Tomi dilarang untuk menikah siri. Jika memang kasusnya adalah berpacaran, lanjut dia, seharusnya etika dikedepankan dalam penanganannya.

“Kalau hanya sebatas menjalin hubungan saya kira itu masuk etika, ya. Kode etik kepolisian. Menjalin hubungan gelap, apalagi dia sudah punya keluarga. Menjalin hubungan dengan perempuan lain itu kan masuk pelanggaran etik, moral ya,” kata Kamba.

Dia juga mengakui, ada peran perempuan lain yang bisa memberi warna berbeda terhadap kasus ini, yaitu laporan dari istri Tomi sendiri.

“Kalau istrinya yang melaporkan, bisa kena sanksi. Tetapi sejauh ini saya lihat enggak ada laporan,” tegas Kamba.

Tanpa penegakan etika dalam kasus ini, lanjut Kamba, polisi terkesan membiarkan anggotanya bertindak seperti yang dilakukan Tomi. Artinya, ada pembiaran dan pemakluman, yang secara tidak langsung juga akan membuat masyarakat memaklumi tindakan semacam itu.

Kasus ini harus bisa menjadi bahan pelajaran bagi kepolisian ke depan, khususnya terkait pengawasan bagi anggota mereka.

“Saya rasa ini bisa jadi koreksi ke depan, sebagai momen untuk berbenah. Pengawasan internal harus diperkuat. Kan ada Paminal, Pengamanan Internal di bawah Propam atau Provost. Ini diperkuat saja,” lanjutnya.

Tidak Cuma Soal Asmara

Toxic relationship, tentu tidak sekadar terkait cinta. Profesor Yayi Suryo Prabandari, psikolog yang juga guru besar FKKMK UGM, membahas hal ini sebuah diskusi daring beberapa waktu yang lalu.

Dia mengatakan, dalam literatur, toxic relationship dikenal sebagai relationship abuse. Definisinya adalah hubungan yang disalahgunakan dan menimbulkan akibat kurang menyenangkan secara emosional, sosial, fisik dan seksual.

“Hubungan beracun kadang tidak disadari baik dalam berteman, berelasi, dan berpacaran yang tidak sehat. Jadi, hubungan beracun tidak hanya untuk suami istri dan berpacaran. Hubungan ini hanya menguntungkan satu pihak, merugikan diri sendiri dan bisa merugikan orang lain,” ujar Yayi.

Ada sejumlah klasifikasi pola toxic relationship. Pertama, secure attachment yang dijelaskan Yayi sebagai perasaan tidak nyaman jika tidak ada dia. Kedua, cemas ambivalen, yaitu hubungan yang berada di antara perasaan senang dan takut. Ketiga adalah cemas menghindar, sebuah kondisi di mana muncul keinginan untuk menghindar, tetapi tidak bisa.

Tanda-tanda toxic relationship, lanjut Yayi, antara lain adalah memanipulasi, tidak konsisten, tidak mau meminta maaf, tidak punya sifat empati dan simpati, dan hanya mau senangnya saja. Risikonya tentu tidak kecil, antara lain cemas dan stres, masalah kepercayaan, kesehatan mental terganggu, gangguan dalam kehidupan sehari-hari, trauma, tidak nyaman dan tidak aman.

Komunikasi penting untuk mencegah dan mengatasi toxic relationship. Kedua belah pihak harus berbicara secara efektif atau memahami pesan yang disampaikan. Kedua, asertif atau rasional.

“Asertif artinya tegas, berterus terang dan kalau bisa secara definitif diucapkan. Kalau kita sudah berbicara, namun masih saja terjadi, sebaiknya berpikir panjang untuk tetap menjalin hubungan dengan orang tersebut, terutama jika ingin melanjutkan hubungan ke pernikahan,” tandasnya. (voa/tan)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.