Tagih Utang Sebelum Jatuh Tempo, Debt Collector Ditebas Parang

David P

Tenggarong, helloborneo.com – Pelaku pembacok debt collector atau penagih utang berinisial RZ di Perumahan eks Tanjung, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara kini menjalani penahanan di Mapolres Kukar.

Tersangka pelaku berinisial TM (31) langsung menyerahkan diri ke Mapolsek Tenggarong usai membacok korbannya.

Kapolres Kukar, AKBP Arwin Amrih Wientama, melalui Kasat Reskrim Polres Kukar AKP Dedik santoso menyatakan, pelaku TM telah dibawa oleh Tim Alligator Polres Kukar untuk dimintai keterangan.

“Tim Alligator juga telah mengamankan sebilah parang milik pelaku. Disembunyikan di bawah kios jualan di Jalan Ki Hajar Dewantara ketika hendak menuju Polsek Tenggarong,” jelas Dedik.

Sementara itu, Korban RZ  dibawa menuju RSUD AM Parikesit Tenggaring Seberang untuk mendapat penanganan medis. Korban mendapat luka pada bagian perut dan leher bagian belakang.

“Untuk korban masih menjalani perawatan di rumah sakit,” terang Dedik.

Saat menjalani pemeriksaan di Mapolres, TM mengaku khilaf. Pasalnya lagi, RZ menagih utang lebih awal dari jatuh tempo.

“Dia (RZ,Red) hubungi saya lewat handphone mau datang mau nagih utang. Dan tetap saya sambut datang ke rumah dengan baik-baik,” jelas TM.

Keduanya pun sempat berbincang di depan rumah TM. Namun, menurut TM, korban memaksanya untuk membayar utang saat itu juga, sehingga ketegangan antar keduanya terjadi.

“Padahal jadwalnya Rabu. Dan saya pasti bayar utang itu,” akunya.

Selain itu, yang lebih membuatnya emosi adalah di tengah ketegangan yang terjadi, RZ disebut hendak memukul anaknya yang hampir bersamaan keluar dari pintu.

“Anak saya keluar dan kasih tahu kalau jadwal bayarnya besok. Tapi malah dia mau pukul anak saya. Dan saya pisah, malah saya yang dipukul di dada,” ungkap TM.

Selanjutnya TM beranjak masuk ke dalam rumah untuk kemudian mengambil sebilah parang. TM pun mengayunkan parang tersebut ke arah RZ secara bertubi.

“Saya tidak ingat berapa kali tebas dia. Saya juga takut dan saya lari ke Kantor Polsek Tenggarong untuk melapor. Karena saya mau dia dapat pertolongan juga,” ucapnya.

TM menyebut bahwa utang yang ditagih RZ adalah pinjaman istrinya. Sesuai kesepakatan, angsuran yang harus dibayar yakni Rp. 50 ribu per Minggu atau Rp. 200 ribu per bulan.

“Itu utang istri saya. Setahu saya sekitar Rp. 4 jutaan di awal. Tapi saya tidak tahu, berapa yang sudah diangsur dan sisanya berapa sekarang. Karena saya juga kerja buat cari cicilan utang itu,” bebernya. (yor)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.