Bantah Soal Kehamilan, HS Mengaku Cuma Dua Kali Rudapaksa Puteri Kandungnya

David P

Balikpapan, helloborneo.com – Satreskrim Polresta Balikpapan menetapkan H-S (38) sebagai tersangka pelaku tindak asusila terhadap puteri kandungnya yang berusia 13 tahun.

HS (38), tersangka rudapaksa anak kandung dikeler Polisi gabungan, Selasa (18/1) Malam lalu. (Ist)

H-S diringkus petugas gabungan di rumahnya di kawasan Margomulyo, Balikpapan Barat pada Selasa (18/1) malam lalu. Penyergapan dilakukan oleh petugas begitu mendapat informasi bahwa HS berencana kabur.

Kasatreskrim Polresta Balikpapan Kompol Rengga Puspo Saputro menerangkan, bahwa  tersangka merudapaksa korban sebanyak dua kali.

“Tersangka dua kali melakukan pemerkosaan terhadap anaknya ini. Desember 2021 dan Januari 2022 kemarin,” kata Rengga di Mapolresta Balikpapan, Kamis (20/1).

Hasil visum yang diterima penyidik menunjukan korban mengalami luka pada alat vitalnya. Rengga turut menepis dugaan korban hamil setelah dirudapaksa berulang kali oleh ayahnya.

“Informasi hamil itu miskomunikasi. Korban mengaku diancam oleh bapaknya agar tidak melaporkan ke orang lain. Kami juga tidak menemukan adanya kekerasan fisik,” terangnya.

Selain hasil visum, pakaian yang dikenakan korban pada saat kejadian dijadikan sebagai barang bukti.

Dalam kasus ini, HS dijerat dengan pasal 81 ayat 2 dan 3 Undang Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak. Apabila terbukti, tersangka pelaku bisa dikenakan sanksi pidana kurungan penjara selama 20 tahun.

Kasus asusila ayah terhadap puteri kandungnya itu mencuat setelah wanita berinisial R melayangkan laporan ke Unit PPA Satreskrim Polresta Balikpapan, 10 Januari 2022 lalu. R yang merupakan ibu dari korban mengaku, tindakan bejat sang ayah dilakukan secara berulang kali dalam kurun lebih dari dua tahun.

R menyebut, mantan suaminya itu bahkan pernah mencekoki puterinya dengan berbagai ramuan minuman. Tujuannya agar jadwal datang bulan korban dapat kembali lancar.

“Setelah diberi macam-macam itu, ya akhirnya gugur,” akunya.

Pertama mengetahui apa yang dialami anaknya, perasaan R campur aduk antara emosi dan sedih. Apalagi, R baru menyadari apabila puterinya sering terlihat murung dengan tatapan yang kosong.

“Sebagai seorang ibu, saya harus memperjuangkan ini lah. Kasihan masa depan anak saya,” ucapnya. (yor)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.