Sisa Utang Perumda Prima Jaya Taka Kabupaten Paser Rp16 Miliar

TB Sihombing

Direktur Perumda Prima Jaya Taka Kabupaten Paser, Saiful Bahri (TBS)

Paser, helloborneo.com – Utang Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Prima Jaya Taka Kabupaten Paser, hingga awal 2022 kian menyusut, menjadi Rp. 16 Miliar, pasca rutin dibayarkan oleh pihak manajemen dari yang sebelumnya diwariskan senilai Rp19 Miliar.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan milik Pemerintah Daerah itu, warisan utang telah ada sebelum peralihan badan hukum dari Perusahaan Daerah (Perusda) menjadi Perusahaan Umum Daerah (Perumda), atau lebih tepatnya sebelum tahun 2018.

“Saat ini utang kami sisa Rp16 miliar dari yang sebelumnya Rp19 miliar,” ujar Direktur Perumda Prima Jaya Taka Kabupaten Paser, Saiful Bahri ketika ditemui helloborneo.com di Paser, Selasa.

Warisan utang itu di antaranya berupa pinjaman kepada PT Bankaltimtara senilai Rp 1,7 Miliar, usaha Pembibitan Sawit Rp 1,9 Miliar, Gaji Karyawan Rp 4 Miliar, dan Pakak senilai Rp 6,5 Miliar. Selain itu ada pula utang terhadap investor berupa pinjaman yang belum dilunasi.

“Kemudian utang dengan investor. Karena (sebelumnya) kita tidak ada modal, terpaksa investor menalangi dulu perizinan dan sebagainya,” ucapnya.

Kendati begitu, pinjaman terhadap investor bukan berupa uang langsung. Melainkan segala sesuatu perizinan dibayarkan lebih dulu oleh investor. Jika telah rampung semua dan pada saat produksi nanti, barulah dibayarkan dengan keuntungan yang didapat Perumda Prima Jaya Taka.

“Bukan uang gelondongan (nominal besar), enggak berani juga kami. Ada juga yang langsung gelondongan (dari pihak lain, Red) tapikan terdaftar dalam rekening Perumda, resmi. Jadi saat pemeriksaaan dan segalanya tujuannya jelas,” jelasnya.

Dari utang Rp19 miliar sekarang turun menjadi Rp16 miliar, menurut dia, beberapa kebijakan harus dilakukan sejak ia menjabat. Di antaranya melakukan perampingan karyawan, sebelumnya 55 orang, kini tersisa 13 orang saja. Hal ini dinilai cukup efektif untuk mengurangi beban utang yang ditanggung perusahaan.

“Pelan-pelan utang (nominalnya) sudah turun, karyawan kami pangkas, dan BPJS kami bayarin. Utang terbesar di pajak Rp6,5 miliar,” ungkapnya.

Salah satu upaya untuk melunasi utang didapati dari hasil berbagai usaha yang dikerjakan. Di antaranya stone crusher atau pemecah batu, “asphalt mixing plant” (AMP), dan pupuk. Ia mengklaim jika pendapatan yang diperoleh habis untuk membayar utang.

“Seandainya tidak ada utang, kita (Perumda Prima Jaya Taka) sudah makmur. Bayangkan saja, Rp 700 jutaan kami bayarkan tahun ini. Ya rata-rata pendapatan habis bayar utang. Tapi kami juga buktikan, tidak menghabiskan uang. Malah memberikan uang (setor PAD),” kata Saiful Bahri.

Meski memiliki beban utang belasan miliar, disebutkannya jika Perumda Prima Jaya Taka pada 2021 lalu masih bisa menyetorkan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Paser senilai Rp 100 juta. PAD yang diperoleh dari Perumda tidak lepas dari berbagai usaha yang dikerjakan seperti “stone crusher”, AMP, pupuk dan sebagainya. (bp)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.