Kelangkaan Minyak Goreng di Kabupaten Paser Masih Terjadi

TB Sihombing

Pasar Induk Penyembolum Senaken, Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser (TBS)

Paser, helloborneo.com – Kelangkaan atau tidak adanya minyak goreng dalam kemasan di Kabupaten Paser, masih terjadi hingga kini.

Pantauan helloborneo.com di Paser, Senin, banyak masyarakat yang ingin membeli minyak goreng dalam kemasan, tetapi persediaan atau stoknya kosong.

Khatima, pedagang kelontongan di Pasar Induk Penyembolum Senaken, Kecamatan Tanah Grogot, mengaku, sudah kesulitan mendapatkan stok minyak goreng dalam kemasan untuk dijual kembali.

“Sekarang lagi langka minyak goreng, suami saya sudah order jauh-jauh hari tapi sampai distributor tidak kebagian, karena barangnya sudah habis,” ungkapnya.

Saat ini para pedagang juga dijatah untuk pengambilan minyak goreng ke distributor lanjut ia, distributor memberlakukan persyaratan untuk para pedagang yang ingin mengambil minyak goreng harus menunjukkan kartu Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

“Syaratnya harus menunjukan NPWP, kalau itu tidak ada, yah pedagang tidak dapat jatah minyak goreng, pokoknya ngeri sekarang kayak ngurus tanah,” ujarnya.

Persediaan minyak goreng yang dimiliki para pedagang ungkapnya, sangatlah minim dan dijual ke konsumen dengan harga Rp41 ribu untuk kemasan dua liter, untuk kemasan satu liter dipastikan habis total.

“Minimal kami jual Rp41 ribu kemasan dua liter yang merek Madina itupun stoknya sedikit, kalau kemasan satu liter tidak ada sama sekali, jadi minyak goreng ini langka sekarang,” ucapnya.

Nurul, pedagang kelontongan lainnya mengatakan, kelangkaan minyak goreng sudah terjadi sejak satu bulan terakhir sejak pemerintah memberlakukan harga minyak goreng kemasan Rp14.000 kemasan satu liter.

“Sudah satu bulan langkanya, itupun kalau ada stok, distributor mengharuskan kami untuk menggandeng dengan barang dagangan lainnya, seperti beli gula satu karung maupun santan, setelah itu kami baru dapat jatah minyak goreng satu dus,” jelasnya.

Apabila persyaratan tersebut tidak dipenuhi, maka para pedagang tidak akan mendapatkan jatah minyak goreng, dam harga minyak goreng rata-rata pedagang harus mengeluarkan biaya Rp230 ribu per dus yang didalamnya berisi enam kemasan ukuran dua liter.

“Kadang kalau kami ambil barang di distributor karena murah kalau yang lain mahal sudah kenanya, karena harganya sudah dinaikkan,” ujarnya.

Pedagang lainnya, Kiki juga mengeluhkan, kelangkaan yang terjadi saat ini berimbas pada melonjaknya harga minyak goreng yang tidak sesuai dengan HET (harga eceran tertinggi) untuk dijual kepada konsumen.

“Kalau harganya itu, untuk merek Madina kami jual ke konsumen Rp22 ribu kemasan satu liter, Rp45 ribu kemasan dua liter, Bimoli setengah liter Rp12 ribu,” jelasnya.

Dengan langkanya minyak goreng kemasan di pasaran para pedagang maupun konsumen berharap agar kelangkaan minyak goreng dapat segera diatasi oleh pemerintah pusat maupun daerah sehingga dapat normal seperti biasanya. (bp)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.