Pakaian Baru, Makanan Lezat, dan Hadiah Dipamerkan dalam Festival Belanja Muslim London

Tun MZ

Tren terbaru busana muslimah dipergakan oleh para model di panggung "The London Muslim Shopping Festival" baru-baru ini. (Facebook/muslimshoppingfest)
Tren terbaru busana muslimah dipergakan oleh para model di panggung “The London Muslim Shopping Festival” baru-baru ini. (Facebook/muslimshoppingfest)

London, helloborneo.com – Busana, makanan, hadiah, dan peralatan rumah tangga termasuk barang yang diminati pembeli menjelang Idul Fitri.

Karya seni yang terinspirasi budaya Islam, lampu atau penerangan rumah, camilan halal yang lezat, maupun tren terbaru busana Muslimah dihadirkan di London Muslim Shopping Festival untuk semua kalangan.

Para model memamerkan tren terbaru dalam balutan busana yang longgar, mengenakan hijab dan abaya, termasuk di antaranya koleksi dari label mode Numa Rose.

Anjumin Ahmed, desainer dan pendiri Numa Rose, menjelaskan,”Dengan semakin dekatnya perayaan Idul Fitri, ini jelas merupakan waktu tersibuk dalam tahun ini. Itu dikarenakan orang membeli hadiah untuk diri mereka sendiri atau teman dan orang yang mereka cintai.”

Modest wear, busana sopan dan tertutup, adalah istilah yang kerap digunakan untuk mengacu pada busana Muslim. Namun menurut Ahmed, kesopanan itu bisa berbeda-beda artinya bagi setiap orang. “Itu dapat berarti merasa nyaman dengan apa yang dikenakan, baik itu dengan baju lengan panjang atau pendek. Apa pun itu, selama Anda merasa nyaman, itu yang dimaksud dengan modest, busana modest menurut saya.”

Meskipun Ramadan dan Idul Fitri adalah acara keagamaan, hari-hari tersebut juga menjadi penggerak ekonomi yang besar. Muslim Inggris ingin membelanjakan uang mereka untuk beragam produk, dengan fokus pada kesehatan yang lebih banyak daripada sebelumnya.

Shelina Janmohamed, Wakil Presiden Pemasaran Islamik di Ogilvy, agensi periklanan dan pemasaran global mengemukakan,”Riset konsumen yang kami lakukan di Ogilvy menunjukkan orang-orang menginginkan makanan yang sangat beragam. Mereka mencari banyak jenis masakan dan menginginkan sesuatu yang tidak biasa. Mereka mengungkapkan bahwa mereka memikirkan tentang mode, mencari baju-baju seperti untuk koleksi padu-padan yang sesuai dengan pola pikir baru yang akan mereka terapkan selama Ramadan.”

Janmohamed juga melihat keinginan untuk sehat dan sejahtera yang mulai berkembang. Bukan hanya terkait makanan khas Ramadan, namun juga apa yang dapat membuat kesehatan mereka, khususnya kesehatan mental, terjaga.

Konsumen Inggris terguncang karena melonjaknya tagihan listrik yang dipicu oleh meningkatnya permintaan energi di seluruh dunia ketika perekonomian global mulai pulih dari pandemi COVID-19.

Inflasi di Inggris naik pada tingkat tercepat dalam hampir 30 tahun karena peningkatan biaya energi, perumahan dan transportasi yang menekan anggaran rumah tangga.

Janmohamed berpandangan anggaran Muslim, sebagaimana warga lainnya, akan dipengaruhi oleh kenaikan inflasi. Namun, Muslim juga akan memikirkan tentang bagaimana mereka merayakan Idul Fitri.

“Perayaan Idul Fitri besar pertama dalam dua tahun sejak semua lockdowndilonggarkan tetap akan terlihat, ini sambil menyadari fakta bahwa harga-harga naik dan mereka harus melakukan penyeimbangan. Beberapa merek tentu saja dapat membantu dengan memastikan ada beragam tawaran agar masyarakat dapat merayakan Idul Fitri secara bermakna, tanpa harus membuat mereka sendiri mengalami kesulitan keuangan,” jelasnya.

Piranti makan termasuk hadiah yang populer karena dapat digunakan sepanjang tahun, kata Riz Kayaalp dari Eid Party, perusahaan yang mengkhususkan diri dalam dekorasi perayaan Idul Fitri.

“Kami menyediakan banyak nampan, cangkir, dan barang-barang lainnya. Alasan mengapa barang-barang itu bermanfaat bagi orang-orang dan dijadikan hadiah adalah karena mereka dapat menggunakannya sepanjang tahun. Tidak ada ucapan Idul Fitri atau Ramadan pada produk tersebut, jadi ini benar-benar serbaguna. Jadi, inilah salah satu tren terbesar. Dalam hal dekorasi, kami biasanya berusaha mengikuti bisnis pada umumnya yang menjual produk untuk pesta ulang tahun atau Natal, kemudian kami melihat produk apa yang sedang tren dan memanfaatkan ide-ide tersebut untuk Ramadan dan Idul Fitri,” jelas Riz Kayaalp.

Muslim di Inggris menghabiskan sekitar 200 juta pound sterling selama bulan Ramadhan, menurut penelitian di Ogilvy.

Kayaalp dari Eid Party menjelaskan, “Kebanyakan komunitas Muslim berasal dari luar Inggris. Sekarang kira-kira sudah generasi ketiga yang tinggal di sini. Ada lebih banyak pendapatan yang dapat orang-orang belanjakan. Itu membuat perbedaan besar dan kami mendapat lebih banyak pengaruh karena tinggal di tengah lingkungan Inggris yang lebih kental. Jadi, meskipun kami tidak merayakan Natal, kami merayakan Idul Fitri.”

Festival Belanja Muslim London tahun ini berlangsung dua hari hingga 27 Maret lalu. (voa/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.