40 Persen Bibit Sawit Palsu Beredar, Waspada!!

Subur – Humas Setkab Penajam Paser Utara 

Penajam, helloborneo.com – Indikasi peredaran benih sawit palsu yang tidak memiliki sertifikat mencapai 40 persen dari jumlah peredaran benih sawit di Kalimantan Timur (Kaltim) termasuk di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Benih sawit itu dikeluarkan pihak tertentu tidak sesuai ketentuan Kementerian Pertanian (Kementan).

Saat dikonfirmasi masalah ini, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten PPU, Abbas Chaliq mengungkapkan, sesuai kewenangan pihaknya telah melaporkan keberadaan bibit sawit palsu ke UPTD pengawasan benih Dinas perkebunan provinsi kaltim. Hal ini telah sesuai dengan kewenangannya yang ada di UPTD tersebut.

“UPTD telah melakukan sidak serta telah meminta dokumen sertifikasi benih sawit yang ada kepada pengelola benih sawit. Selanjutnya UPTD pengawasan benih dinas perkebunan provinsi kaltim akan melakukan koordinasi kepada pihak yang mengeluarkan sertifikasi tersebut,“ ungkapnya.

Dikatakan Abbas, saat ini pengembangan benih sawit baik oleh masyarakat bersekala kecil maupun oleh pengusaha dengan jumlah yang besar banyak ditemui dilingkungan masyarakat. Secara kasat mata, perbedaan benih sawit tersebut sulit untuk dibedakan antara benih palsu dan asli.

“Karenanya, guna mengantisipasi peredaran benih sawit palsu di masyarakat maka petani pekebun bahkan pengusaha perkebunan kelapa sawit  di PPU, diminta untuk tidak  mudah terpengaruh dengan tawaran harga benih yang murah oleh pihak tertentu,” harapnya.

Sementara itu berdasarkan data yang dikeluarkan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) maupun perusahaan sumber benih yang telah ditunjuk Kementan,  melalui Kepala UPTD Pengawas Benih Perkebunan provinsi, Irsyal, bahwa harga benih sawit dalam bentuk kecambah mencapai Rp10 ribu per kecambah.

Sedangkan harga benih sawit palsu atau ilegitim yang ditawarkan pelaku tidak bertanggungjawab itu sekitar Rp2 ribu per kecambah, sehingga perbandingan harga sudah jauh berbeda. Hal ini hendaknya diketahui para pekebun maupun perusahaan perkebunan sawit.

Irsyal menyebutkan harga murah benih sawit ilegitim itu akan memberikan imbas yang sangat merugikan bagi petani pekebun maupun perusahaan saat tanaman sudah berumur minimal tiga tahun atau lebih dan selayaknya berproduksi.

Produksi tanaman yang berasal dari benih palsu tidak akan maksimal. Idealnya dengan menggunakan benih unggul maka produksi bisa mencapai 2 hingga 5 ton per hektar. Sebaliknya, tanaman dari benih sawit palsu hanya menghasilkan satu ton perhektar, bahkan banyak tanaman dari bibit palsu ini tidak bisa berbuah.

“Total investasi kebun sawit hingga panen mencapai minimal Rp39,7 juta hingga  Rp50 juta per hektar. Produksi yang seharusnya 2 hingga 3 ton, hanya menghasilkan satu ton per hektar dan ini akan diderita selama 25 tahun sesuai umur tanam sawit. Karena itu, petani harus berhati-hati dengan bibit palsu ini,” ungkap Irsyal. (adv/log)

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.