RSUD Panglima Sebaya Keluhkan BPJS

Rapal JKN

Bosan Staf RSUD Jadi Amuk Peserta

RSUD Panglima Sebaya kerap jadi pelampiasan emosional atas ketidak puasan Peserta BPJS. (Rapal JKN - Hello Borneo)

RSUD Panglima Sebaya kerap jadi pelampiasan emosional atas ketidak puasan Peserta BPJS. (Rapal JKN – Hello Borneo)

Tana Paser, helloborneo.com – Kurangnya sosialisasi dan perhatian dari BPJS, di Kabupaten Paser. Membuat jajaran staff di RSUD Panglima Sebaya kerap menjadi amuk dari pelampiasan emosional atas ketidak puasan Peserta BPJS, terhadap paket pelayanan kesehatannya.

Seperti Nurdin salah satu warga Tana Priuk ini contohnya, meski dia telah tergabung dalam BPJS kesehatan. Dia tetap harus mengeluarkan kocek hingga Rp5 juta, atas biaya berobatannya selama 8 hari saat di rawat di RSUD Panglima Sebaya.

“Sangat kecewa, harusnya dari BPJS sendiri ada sosialisasi terkait paket kesehatan yang ditawarkan untuk peserta BPJS,” ujarnya.

“Agar jangan usai menjalani rawat inap di todong dengan pembayaran yang diluar dugaan,” ujarnya.

Sedangkan pihak RSUD Panglima Sebaya yang sempat mengalami luapan emosional dari Nurdin, melalui Kepala Bidang Pelayanan Medik dr. Diana mengutarakan, kalau pihaknya sendiri juga sangat menyayangkan dari pelayanan yang diberikan BPJS. Pasalnya selain Nurdin, jauh sebelumnya sudah banyak warga yang mengeluhkan paket pelayanan kesehatannya.

“Ini bukan yang pertama, namun mau seperti apa dari BPJS sendiri tidak ada upaya untuk memberikan sosialisasi kepada pesertanya,” tuturnya.

Bahkan dari paket pelayanan yang diberikan BPJS tak sesuai dengan operasional yang ada di daerah. Pasalnya BPJS melakukan penyamarataan paket layanan antara daerah kota besar dengan kabupaten. Padahal untuk anggarannya saja berbeda.

“Hampir disetiap kali pertemuan kami meminta kebijakan pada BPJS. Pasalnya tidak bisa dilakukan penyamarataan paket pelayanan, karena seperti yang kita ketahui. Untuk mendatangkan kebutuhan obat-obatan saja di Paser memerlukan ongkos yang ekstra dibanding dengan wilayah Samarinda atau Balikpapan,” papar Diana.

Tak hanya itu Diana juga menuturkan, kurangnya sosialisasi dari BPJS menjadi kendala sendiri. Karena banyak masyarakat yang tidak memahami sistematis dari pelayanan kesehatan dari BPJS.

“Ini harus menjadi catatan bagi BPJS, agar gencar memberikan sosialisasi. Karena kasian staff kami selalu jadi tameng ribut jika ada masalah, selalu jadi pusat luapan emosional peserta BPJS,” tutupnya. (rol)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.