75 Persen Perusahaan di Penajam Belum Perhatikan K3

Bagus Purwa

 

Kepala Bidang Tenaga Kerja, Disosnaker, Kabupaten Penajam Paser Utara, Sorijan Sihombing (Suherman - Hello Borneo)

Kepala Bidang Tenaga Kerja, Disosnaker, Kabupaten Penajam Paser Utara, Sorijan Sihombing (Suherman – Hello Borneo)

Penajam, helloborneo.com – Sekitar 75 persen dari 130 perusahaan di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, belum memperhatikan dan mengoptimalkan K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) untuk karyawan di tempat kerja.

“Rendahnya pelaksanaan K3 di perusahaan itu akibat rendahnya oengetahuan pengusaha terkait fungsi K3 untuk karyawan di tempat kerja,” kata Sorijan Sihombing di Penajam, Senin.

Disosnaker Kebupaten Penajam Paser Utara, menurutnya, selalu melakukan peneguran terhadap perusahaan yang belum mengoptimalkan dan memperhatikan K3 di lingkungan kerja di perusahaan-perusahaan yang berada di wilayah Penajam Paser Utara.

Sorijan Sihombing mengatakan,sesuai dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, pasal 14 yang menyebutkan perusahaan wajib menyediakan dan meberikan peralatan keselamatan kerja kepada karyawan tanpa dipungut biaya.

“Kadang ada perusahaan yang memberikan peralatan keselamatan kerja, tapi perusahaan memotong gaji pekerja. Itu termasuk pelanggaran dan kami minta perusahaan mengembalikan uang karyawan tersebut,” jelasnya.

Sorijan Sihombing menyatakan, untuk memberikan sanksi sanksi terhadap perusahaan yang mengabaikan K3 tersebut harus melalui penyidikan. Namun untuk meminimalisasi kecelakaan kerja, petigas Disosnaker rutin melakukan pemantauan.

“Setiap pekerja di wilayah perusahaan diawasi secara ketat oleh petugas K3 serta petugas Dinsosnaker juga rutin melakukan pemantauan terhadap kinerja pengawas pekerja. Jadi angka kecelakaan kerja bisa ditekan,” ujarnya.

Sorijan Sihombing mengharapkan, agar seluruh perusahaan yang ada di Kabupaten Penajam Paser Utara dapat terus meningkatkan K3 dan menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja (SMK3), sehingga di setiap perusahaan dapat meminimalisasi terjadinya kecelakaan kerja.

“Setiap perusahaan harus meningkatkan K3 di lingkungan kerja masing-masing serta menerapkan SMK3 agar para pekerja dapat terhindar dari kecelakaan kerja, serta setiap pekeja dapat diawasi dengan seksama, baik pengetahuan maupun keterampilan,” katanya.

“Karena pada umumnya kecelakaan kerja terjadi akibat pengaruh kurangnya pengetahuan dan pelatihan serta kurang ketatnya pengawasan di lingkungan perusahaan yang biasanya menjadi faktor utama terjadinya kecelakaan kerja disetiap perusahaan,” jelas Sirijan Sihombing. (bp/*esa)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.