MUI Penajam : Bunuh Diri Terjadi Akibat Krisis Iman

Subur Priono – Humas Setkab Penajam Paser Utara

Ketua MUI Kabupaten Penajam Paser Utara, Rfai Remba (Subur Priono - Humas Setkab Penajam Paser Utara)

Ketua MUI Kabupaten Penajam Paser Utara, Rfai Remba (Subur Priono – Humas Setkab Penajam Paser Utara)

Penajam, helloborneo.com – Mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri terjadi akibat krisis iman, kata Ketua Majelis Uama Indonesia (MUI) Kabupaten Penajam Paser Utara Kalimantan Timur, Rifai Remba.

“Kasus bunuh diri bukan peristiwa yang baru, termasuk di Kabupaten Penajam Paser Utara, tetapi merupakan fenomena yang sering terjadi dimana saja,” kata  Rifai Remba, di Penajam, beberapa waktu lalu.

Ia menyayangkan orang yang mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri karena dilaknat oleh Allah SWT. Melakukan suatu tindakan yang mengarah pada kehancuran diri merupakan tindakan yang dilarang oleh Allah SWT, apalagi sampai melakukan bunuh diri.

Menurut Rifai Remba, bunuh diri merupakan tindakan yang pada dasarnya disebabkan adanya krisis iman dari manusia bersangkutan, karena dangkalnya pemahaman seseorang tentang agama sehingga mudah berputus asa.

Padahal bunuh diri itu termasuk dosa besar dan dilarang agama. Hukumnya, adalah haram bunuh diri merupakan suatu perbuatan menentang takdir, seperti dijelaskan dalam Al Qur’an Surah Azzumat ayat 53 yang berbunyi “ jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah”.

“Masalah ekonomi, keluarga dan sebagainya kerap menjadikan sebab manusia mengambil keputusan yang salah dengan mengakhiri hidupnya. Padahal jika tahu konsekuensinya melakukan itu, sangat merugikan pelaku dan tindakan bunuh diri tentu bukan solusi yang tepat bagi manusia,” ujar Rifai Remba.

“MUI beserta pemerintah, ulama, guru, tokoh masyarakat hingga ketua RT dan seluruh masyarakat Kabuoaten Penajam Paser Utara harus bersinergi dalam memberikan pemahaman tentang tindakan bunuh diri tersebut,” katanya

Pembinaan kepada masyarakat lanjut Rifai Remba, dapat dilakukan melalui cara yakni, menyerap aspirasi masyarakat di setiap daerah melalui program safari subuh yang dilakukan oleh pemerintah daerah.

“Dalam kegiatan itu kepala daerah didampingi sejumlah SKPD (satuan kerja perangkat darrah) melakukan safari subuh berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lainnya untuk melakukan salat subuh berjamaah dan berdialog dengan masyarakat,” jelasnya.

Kepala daerah dan jajarannya yang langsung berinteraksi dengan masyarakat tambah Rifai Remba, sangat efektif mendekatkan diri dengan masyarakat sehingga masyarakat merasa memperoleh perhatian lebih dari pimpinannya. (adv/bp/*esa)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.