Warga Desa Penajam Keluhkan Minimnya Infrastruktur Dasar

Ari. B

Bupati PPU Yusran Aspar Saat Melakukan Sosialisasi Pembangunan di Kecamatan Babulu.

Penajam, helloborneo.com – Warga Desa Labangka Barat dan Gunung Mulia di Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, mengeluhkan masih minimnya infrastruktur dasar di wilayahnya, seperti jalan usaha tani, sarana air bersih dan irigasi pertanian.

Sejumlah warga dari kedua desa itu pada Kamis, mengatakan, jalan usaha tani di wilayah Desa Labangka dan Gunung Mulia sudah dipenuhi lubang, sehingga menyulitkan warga mengangkut hasil perkebunan dan persawahan ke pasar.

Keluhan tersebut disampaikan langsung kepada Bupati Penajam Paser Utara Yusran Aspar dan Wakil Bupati Mustaqim MZ ketika melakukan kunjungan kerja di dua desa tersebut.

“Kami kesulitan untuk mengangkut hasil kebun dan sawah, sebab jalan sudah rusak dipenuhi lubang,” kata Surani, salah satu warga Desa Bangun Mulia.

Selain itu, warga di kedua desa tersebut juga mengeluhkan sulitnya untuk mencari air bersih karena tidak ada sumber air yang memadai di wilayah itu.

Dengan ketiadaan sumber air yang memadai itu, lanjut Surani, warga Desa Gunung Mulia dan sekitarnya sangat kesulitan untuk mendapatkan air bersih, terutama pada saat musim kemarau.

Pasokan air juga dibutuhkan warga di Desa Gunung Mulia dan Labangka Darat untuk pemenuhan irigasi lahan persawahan.

“Kami membutuhkan air untuk pengairan lahan persawahan, tidak ada sumber air yang memadai sehingga menyusahkan petani untuk bercocok tanam,” tambah Siti Supartinah, warga Desa Labangka Barat.

Selama ini, petani di Desa Gunung Mulia dan Desa Labangka Barat bergantung pada hujan untuk bisa menanam padi karena tidak memiliki sumber air yang memadai untuk irigasi lahan persawahan.

“Sodetan Sungai Talake di wilayah Kabupaten Paser yang menjadi harapan warga sebagai sumber irigasi sawah sampai kini belum terealisasi,” tambah Siti Supartinah.

Pada kesempatan itu, Bupati Yusran Aspar menyatakan bahwa pemerintah pusat sudah mengalokasikan anggaran melalui APBN sebesar Rp18 miliar untuk segera merealisasikan pembuatan sodetan Sungai Talake pada 2018.

Yusran Aspar juga berharap agar warga tidak melakukan alih fungsi lahan persawahan menjadi perkebunan kelapa sawit, karena permasalahan irigasi akan segera teratasi. (bp/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.