Perkebunan Mini Dasa Wisma Pucuk Lakukan Sejumlah Inovasi Untuk Menambah Sumber Penghasilan Keluarga

Foto Istimewa.

Kutai Kartanegara helloborneo.com – Kreativitas tanpa batas, itulah yang dilakukan oleh ibu-ibu penggerak pembinaan kesejahteraan keluarga (PPK) untuk memanfaatkan lahan tidur seluas 1.100 meter di Desa Batuah menjadi kawasan Perkebunan Mini yang unik yang diberi nama Dasa Wisma Pucuk.

Sejak Januari 2020 silam, Komunitas ibu-ibu PKK yang beranggotakan sebanyak 19 orang ini rutin melakukan perawatan serta pengembangan produk olahan dari hasil perkebunan tersebut.

Setiap pagi, Adriana (28) yang didaulat sebagai Ketua Dasa Wisma Pucuk mendatangi kebun, bergegas mengambil gembor penyiram tanamannya yang berwarna hijau yang berisi air sumur bor. Lalu dicampurkan dengan urine sapi yang sebelumnya ditaruh di wadah jerigen kemudian disiram ke berbagai jenis tanaman sayur mayur.

“Ini dilakukan agar pertumbuhan tanaman lebih berkualitas. Toga, jahe, jagung, sawi, seledri, kangkung dan tanaman lainnya tumbuh menghiasi perkebunan mini kami,” terangnya saat ditemui helloborneo.com pada pertengahan November lalu.

Adriana menuturkan hasil produksi tersebut menjadi angin segar sebagai alternatif tambahan sumber penghasilan ibu-ibu rumah tangga di RT 29.

“Misalnya sayur kangkung, hanya butuh masa tanam 21 hari sampai panen dengan luas bedengan 6 kali 1 meter, bisa menghasilkan 40 ikat, kemudian dijual ke dengan harga Rp 3000 per-ikatnya. Awalnya kita konsumsi pribadi,tapi makin ke belakang kita mulai jual ke yang punya usaha catering atau perusahaan,” terang Adriana.

Tak hanya terbatas pada penjualan hasil panen saja, ibu-ibu Dasa Wisma Pucuk juga melakukan inovasi untuk produk olahan yang memiliki nilai jual yang tinggi.

Ditambahkan oleh Yeni Yuliani, Sekretaris Dasa Wisma Pucuk, saat ini terdapat 4 unggulan khas yang diminati warga sekitar, diantaranya keripik ubi ungu, jahe instan,stik seledri dan juga keripik pisang ambon.

“Mengolahnya cukup mudah, misalnya keripik pisang ambon. Mengolahnya melalui buah pisang ambon yang sudah matang, kemudian iris daging pisang sampai tipis, kemudian dicampur dengan bumbu-bumbu dan digoreng hingga warnanya cokelat keemasan,setelah itu ditiriskan dan keripik pisang ambon siap disantap,” ujar Yeni.

Ke empat olahan itu juga dijual sangat murah meriah, hanya Rp 5000 perbungkusnya. Para pelanggan biasanya para pegawai perusahaan sekitar dan para tetangga Desa Batuah.

Uniknya, Perkebunan Mini milik Dasa Wisma Pucuk ini juga dikemas dengan desain dekoratif yang indah,memanfaatkan limbah botol plastik rumah tangga dan cat yang dibeli secara swadaya, membuat tempat ini terlihat cantik dan layak untuk menjadi spot berswafoto, warna warni dan gazebo yang berbentuk seperti saung di kampung-kampung yang terbuat dari bambu, terlihat sangat menarik. (/sop/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.