Dugaan Wanprestasi PT. Sinar Alam Niaga Raya Soal Plasma, Forum Petani Sawit Laporkan Perusahaan ke DPRD Paser

TB Sihombing

Paser, helloborneo.com – Keluhan masyarakat atas ketidakseriusan Perusahaan kelapa sawit dalam menjalin kemitraan berupa lahan plasma di Kecamatan Batu Engau, Kabupaten Paser kembali terjadi.

Baru-baru ini salah satu perusahaan diadukan masyarakat ke DPRD Kabupaten Paser, lantaran sudah pasrah akibat ulah perusahaan yang diduga wanprestasi terhadap kemitraan setelah lahannya direlakan digarap oleh pihak perusahaan.

Aduan tersebut dilayangkan melalui surat, tertanggal 5 November 2021, oleh Forum Petani Sawit “Taka Low” Desa Bai Jaya, atas keluhan masyarakat di RT 02 desa setempat, kepada PT. Sinar Alam Niaga Raya, perihal ketidakjelasan kemitraan lahan plasma yang diserahkan seluas 154 hektar, 2014 lalu.

Padahal Agustus 2014, atas nama Koperasi Langgai Jaya Makmur, telah menjalin kerjasama dengan perusahaan secara tertulis. Sebagai bentuk perjanjian berupa serah terima lahan kemitraan untuk dijadikan lahan plasma, namun tak ada kelanjutan hingga November 2021 ini.

“Kami waktu menyerahkan lahan itu tanpa ganti rugi, melalui koperasi untuk diserahkan ke perusahaan supaya ada kerjasama. Namun setelah diserahkan hingga saat ini tak kunjung ada kejelasan, bahkan dalam bentuk perjanjian kerjanya seperti apa,” Kata At Jemain saat dikonfirmasi Jum’at (12/11/2021).

Upaya perundingan beberapa kali untuk mencapai mufakat, namun diacuhkan oleh pihak perusahaan. Hingga munculnya kekecewaan yang kemudian dilaporkan ke DPRD Kabupaten Paser untuk mendapat kepastian terhadap aspirasi yang dilayangkan.

“Sudah kami lakukan upaya upaya kominukasi untuk duduk bersama menyelesaikan masalah itu. Tapi mereka mengakunya selalu ada kesibukan. Sehingga kami berfikir lebih baik kita meminta bantuan pemerintah saja. Biar pemerintah yang panggil itu perusahaan, biar jelas,” kata At Jemain.

Bahkan dengan tidak adanya tindaklanjut kemitraan itu, berdampak kerugian pada masyarakat. Pasalnya sebelum lahan itu diserahkan ke perusahaan, lokasi berkontur rawa tersebut ditumbuhi pohon gelam. Dimana jika dihitung saat ini seharusnya sudah mendapat keuntungan dari penjualan kayu.

“Lokasi itu sebelumnya ada tambak dan ditanami pohon gelam. Kalau dihitung sekarang seharusnya kami sudah dapat keuntungan dari penjualan kayu. Hanya karena kami menginginkan keuntungan lain maka kami serahkan lahan itu ke perusahaan. Tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan,” tambahnya.

Adapun target dari aspirasi yang disampaikan ke perwakilan rakyat tersebut salah satunya meminta kembali lahan yang pernah diserahkan. Hal ini dinilai tidak menguntungkan, diperparah lokasi plasma saat ini hanya ditanami sawit tanpa ada perawatan dan tak menghasilkan. (tan)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.