Kisruh Kelangkaan Solar Subsidi di Balikpapan, Wali Kota Indikasikan ada Penyelewengan

Roy MS

Balikpapan, helloborneo.com – Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud mendesak agar Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kilometer 13, Balikpapan Utara segera dioperasikan. Desakan tersebut ditujukan sebagai upaya mengurai antrean solar subsidi yang dalam beberapa waktu terakhir mengular di sejumlah SPBU Balikpapan.

Kepada sejumlah perwakilan mahasiswa dan sopir truk yang berunjuk rasa di depan Balai Kota, Kamis (30/3) siang, Rahmad memastikan telah melayangkan surat mengenai desakan tersebut kepada Pertamina. Dia berharap SPBU di KM 13 sudah bisa beroperasi akhir pekan ini, yang akan khusus melayani truk muatan bahan pokok, material maupun truk kontainer lainnya.

“Nanti mobil-mobil yang bermuatan, termasuk mobil besar itu akan dialihkan sehingga tidak masuk dalam kota. Saya minta SPBU ini dipercepat, hari Sabtu sudah dibuka,” jelasnya.

Menurut Rahmad, bertambahnya SPBU ini secara otomatis akan menambah kuota solar bersubsidi. Apalagi nantinya SPBU KM 13 akan mendapat pasokan sekitar 80 ton per hari di luar pasokan ke empat SPBU penyalur solar subsidi lainnya. “Kalau memang setelah SPBU KM 13 dibuka masih kurang, nanti ditambah lagi kuotanya. Tapi kan belum tentu kurang,” lanjutnya.

Untuk itu, Dia mengingatkan agar masyarakat menggunakan bahan bakar minyak (BBM) subsidi sesuai peruntukannya. Artinya, dalam hal ini solar bersubsidi dikecualikan bagi kendaraan muatan komoditas pertambangan dan perkebunan.

“Kalau muatan industri pertambangan dan perkebunan ikut mengisi solar subsidi, itu bisa pidana nanti,” ucap Rahmad penuh penekanan.

Penekanan tersebut disampaikan oleh Rahmad bukan tanpa alasan. Kelangkaan yang dikeluhkan oleh masyarakat kepada pihaknya, diindikasi sebagai akibat dari pemanfaatan solar subsidi bukan pada peruntukannya. Disparitas atau selisih antara harga industri dan subsidi yang begitu jauh, diduga melatari masalah tersebut.

“Karena industri dengan subsidi itu jauh perbedaannya. Harga subsidi 5.500, harga industri sekarang 17.000, jadi ini banyak yang memanfaatkan,” tutupnya.

Kisruh kelangkaan solar subidi di Kota Balikpapan masih berlanjut. Antrean panjang kendaraan muatan di sejumlah SPBU penyalur seolah menjadi pemandangan lumrah akhir-akhir ini.

Kalangan sopir kendaraan muatan pun menjerit, akibat mengalami penurunan penghasilan lantaran harus berhari-hari mengantre.

Mahasiswa dan ratusan sopir muatan menggelar unjukrasa menyusul aksi mogok ratusan sopir truk kontainer  baru-baru ini. Di antara tuntutan mereka yakni, agar kuota bbm dan jumlah SPBU penyalur solar subsidi ditambah.

Di tengah situasi tersebut, Pertamina Patra Niaga regional Kalimantan sempat menyampaikan bahwa ketersediaan dan pasokan solar bersubsidi di Kota Balikpapan dalam kondisi aman dan lancar. (yor)

BACA JUGA:

SE Jam Edar Plus Antrean BBM Mencekik Sopir Muatan Berat

Pertamina Pastikan Pasokan Solar Bersubsidi Lancar

Pertamina ditantang Buktikan Pasokan Solar Subsidi Mencukupi




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.